Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI
Dengan sukacita kami mengucapkan “Selamat Memasuki Bulan Februari 2018”. Tak terasa kita telah melewati satu bulan di tahun 2018 ini, yaitu bulan Januari. Ketika kita sibuk dalam aktivitas rasanya hari-hari berlalu dengan cepat. Tetapi bagaimanapun perjalanan kita dalam bulan yang lewat kita tetap percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan membimbing kita. Untuk bulan Februari 2018 tema bulanan GKPI sebagaimana diaturkan dalam Almanak GKPI adalah: “Mengikut Yesus dengan setia” yang didasarkan pada Matius 4:19-20: “Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia." Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini memperoleh semangat baru untuk mengikut Yesus dengan setia. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan untuk mengunjungi blog ini. Tuhan memberkati.
(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Arsip Renungan Harian Terang Hidup GKPI





Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Kamis, 22 Peburari 2018


TUHAN ADALAH PENOLONGKU
“Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku”
(Mazmur 31 : 3).
 
                Dalam situasi yang sulit jikalau kita diperhadapkan dengan pilihan, maka kecenderungan kita akan mengarah kepada pilihan yang efek dan dampaknya begitu cepat terasa dan nyata. Pilihan yang mendatangkan suatu perubahan yang instan sering menjadi pilihan banyak orang. Tetapi, bagi sebagian orang, pilihan yang seperti itu bukanlah hal yang tepat, karena dengan pilihan yang demikian justru akan membuat diri kita sendiri tidak mau keluar dari zona aman dalam menyikapi sesuatu. Kita akan tetap hidup terus-menerus dalam keadaan yang sama dan tidak bisa mengalami perubahan yang nyata. Memang pilihan instan begitu cepat dirasakan dampaknya, tetapi sebagai orang percaya kita perlu belajar dari sikap Daud ketika menghadapi situasi yang sulit sebagaimana dalam nas ini.
                Kita tahu bersama bahwa Daud menulis mazmur ini, ia berada dalam kesesakan karena dikejar-kejar dan dimusuhi anaknya sendiri yaitu Absalom, yang sangat menginginkan kedudukan ayahnya sebagai raja Israel. Berbagai usaha dilakukan oleh Absalom, bahkan ia berusaha mempengaruhi banyak orang dengan menggalang kekuatan untuk menghancurkan ayahnya sendiri. (lih. 2 Sam.15:10-11). Daud merasakan ancaman yang tidak biasa yang sedang mengarah kepadanya. Daud akhirnya melarikan diri dari maksud jahat anaknya itu. Dalam pelarianya, Daud sampai menangis dan berkabung karena tidak hanya anaknya saja yang menginginkan kematiannya, tetapi banyak orang juga yang memusuhinya dan ingin melawannya. Dalam keadaan terjepit, Daud menyampaikan pergumulannya itu kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya: “Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku” (Mzm. 31:3). Daud memohon kepada Tuhan agar Tuhan menjadi tempat perlindungan bagi kehidupannya yang sedang mengalami masa yang sangat sulit.
                Daud telah menunjukkan suatu keteladanan yang baik bagi kita. Di dalam keadaan yang tidak memihak kepadanya, ia tidak mau mengambil jalan yang salah dan dianggap aman oleh banyak orang. Tetapi, Daud tetap berdiri di sisi yang benar dengan memilih untuk tetap setia kepada Tuhan dengan menyerahkan seluruh perkara hidupnya hanya kepada Tuhan. Demikianlah kiranya kehidupan kita sebagai orang yang percaya. Hendaklah tidak gampang menyerah kepada keadaan, sebaliknya kita adalah orang yang akan mengubah keadaan sulit itu menjadi peluang untuk menempa iman percaya kita lebih tangguh lagi. Oleh karena itulah, Tuhan adalah penolong bagi kehidupan kita, Tuhan adalah keselamatan kita, dan Tuhan adalah gembala kita (bnd. Mzm. 23:1; Mzm. 62:2).
 
DOA: Bapa Sorgawi, Engkaulah penolong bagi kami di setiap tantangan yang menghadang. Bimbinglah kami Tuhan untuk senantiasa percaya akan pertolongan-Mu. Amin.
 
Kata-Kata Bijak:
“Tuhanlah Gunung Batu dan Kubu Pertahanan kita. Datanglah
dan berserahlah Kepada-Nya.”


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Rabu, 21 Peburari 2018

POTENSI YANG TERUJI
“Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4).
                Ada kalimat bijak yang mengatakan “Pelaut yang tangguh tidak terbentuk dari laut yang tenang, tetapi dari badai yang mengamuk dan yang menerjang”. Kualitas hidup seseorang akan tampak ketika mereka berhadapan dengan tantangan, masalah, kesulitan, krisis atau situasi yang sulit sekalipun. Di dalam keadaan hidup yang aman-aman saja, kecenderungan seseorang untuk berbuat lebih dari yang biasanya akan tersembunyi, tetapi sebaliknya jikalau seseorang mengalami kehidupan yang sulit, maka ia akan belajar untuk mengeluarkan potensi yang ada dalam dirinya.  Ia akan bekerja keras lebih daripada yang biasanya, demi untuk bertahan hidup. Akhirnya dia akan menjadi sosok yang kuat dan tangguh.
                Hal yang sama juga terlihat dalam kehidupan Yesus secara pribadi. Sebelum lebih jauh melaksanakan misi-Nya Ia dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai oleh Iblis (ay.1). Ia berada disana selama 40 hari dan 40 malam (ay.2). Dalam kurun waktu yang begitu panjang itulah Ia mengalami ujian yang sangat berat melebihi kemampuan dari manusia biasa. Ia mengalami rasa haus dan lapar yang hebat. Iblis melihat situasi dan kondisi Yesus yang begitu lemah, lalu mencobai-Nya dengan berkata: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” (ay.3). Ternyata Yesus tidak terpengaruh atau tergoda sedikit pun terhadap godaan itu. Dalam kondisi tubuh yang lemah secara fisik, Yesus tahu bahwa kebutuhan yang utama bukanlah makanan dan minuman tetapi ketaatan kepada Firman Allah. Karena itu Tuhan Yesus menjawab: “….Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”. Dalam hal ini Yesus mau mengajarkan bahwa Firman Allah adalah kekuatan yang melampaui kebutuhan jasmani, yaitu makanan dan minuman. Itulah sebabnya Ia mampu berpuasa 40 hari dan 40 malam. Bukankah Dia mampu dan bertahan hidup karena Firman?
                Dari pengalaman Tuhan Yesus tersebut, kita dapat belajar bahwa tantangan, masalah, beban pikiran, kesulitan, dan penderitaan memang haruslah kita hadapi selama di dunia ini. Bahkan godaan-godaan Iblispun akan sering diperhadapkan kepada kita. Dalam kondisi fisik kita yang lemah, godaan-godaan sering datang supaya kita mengikuti keinginan si Iblis, lalu kita jatuh ke dalam dosa. Karena itu sangatlah penting untuk mengenal strategi Iblis yang seperti itu. Kita perlu waspada bahwa kelemahan fisik kita bisa menjadi jalan masuk bagi Iblis untuk menyuntikkan godaannya sehingga kita terjatuh. Tetapi ketika kita mengandalkan Firman dalam menghadapi godaan dan kondisi sesulit apapun, maka kita akan kuat dan tangguh. Di situlah potensi kita teruji, tentu karena FIrman. Okay? (JH).
DOA: Bapa Sorgawi, kami mengaku bahwa Firman-Mu adalah kekuatan dan andalan kami ketika menghadapi cobaan. Karena itu kuatkan kami Bapa agar senantiasa setia dan taat kepada Firman-Mu. Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Kata-kata Bijak:
Kekuatan sejati dalam diri kita adalah ketika kita mengandalkan Firman Tuhan
dalam setiap tantangan yang kita hadapi.


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Selasa, 20 Peburari 2018


PERCAYALAH KEPADA RENCANA TUHAN
“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian,
 supaya manusia takut akan Dia” (Pengkhotbah 3 : 14).
                Sehebat atau sepintar apa pun manusia tidak dapat melawan atau menahan lajunya waktu. Apa pun yang terjadi, waktu akan terus berjalan tanpa mempedulikan sikap kita terhadapnya. Semua yang ada di dunia ini dibatasi oleh waktu. Jadi, untuk segala sesuatu ada masanya. Dan selama kita masih hidup di dunia ini kita akan terus berpacu dengan waktu. Dalam perjalan waktu itulah Allah bekerja dan merancang segala sesuatu untuk tujuan-tujuan yang indah yang sudah ditentukan-Nya. Allah memiliki kuasa untuk melakukan segala sesuatu dalam waktu. Hal ini yang mau disampaikan oleh Salomo dalam kitab ini.
                Secara umum kita lihat bahwa Kitab Pengkhotbah berisikan tentang kesaksian Salomo atas apa yang terjadi dalam kehidupannya, termasuk segala sesuatu yang menurutnya adalah kesia-siaan belaka. Di dalamnya ia mengatakan bahwa krisis rohani dan pengaruh hidup yang memuaskan-dirinya pada akhirnya membuat diri kecewa dengan kesenangan dan materialisme sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan. Salomo menyampaikan luapan hatinya tentang kesia-siaan dan kehampaan hidup jika terlepas dari Allah dan Firman-Nya. Ia telah menikmati kekayaan, kuasa, kehormatan, ketenaran, dan kesenangan sensual. Namun, semua itu akhirnya merupakan kehampaan dan kekecewaannya saja, "Kesia-siaan belaka! Kesia-siaan belaka! ... segala sesuatu adalah sia-sia" (Lih. Pkh. 1:2). Pesan yang paling penting disiampaikan oleh Salomo selama menjalani masa hidup adalah agar manusia takut akan Tuhan. Dalam nas ini  Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia”. Salomo mengajarkan bahwa hidup takut akan Tuhan adalah dasar utama membuat hidup ini berarti. Hidup akan memiliki makna jika disertai takut akan Tuhan.
                Melalui Firman Tuhan hari ini kita diingatkan bahwa Allah sungguh berdaulat dalam kehidupan kita. Ia telah merencanakan segala sesuatu di dunia ini, dan itu akan ada selamanya. Dalam menyikapi rencana-rencana Allah itu, sikap kita adalah takut akan Tuhan dan itulah yang terindah. Kita percaya bahwa rancangan-rancangan Tuhan pastilah rancangan yang terindah dalam segenap hidup kita. Di dalam kitab Yeremia 29:11 dikatakan “Sebab aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”. Mari melangkah dengan iman untuk menyambut rancangan Tuhan dalam hidup kita.(JH).

DOA: Bapa sorgawi, Engkau sungguh mempunyai rencana yang indah dalam kehidupan kami. Tolonglah kami Tuhan melalui Roh-Mu agar kami percaya atas rencana-rencana-Mu yang begitu indah kami. Amin.
Kata-kata Bijak:
Allah telah merancang segala sesuatu dalam kehidupan kita,
Semuanya itu mendorong kita untuk menjalaninya dengan iman.


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Senin, 19 Peburari 2018

FIRMAN YANG ABADI
“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Matius 24 : 35).
                Tidak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya sedang berproses menuju akhir. Apa yang kita lihat sekarang ini secara fisik semuanya itu akan berlalu. Sekalipun manusia dengan kecanggihan teknologinya menciptakan berbagai alat dan sarana dan prasarana untuk menopang dan mengeksiskan dunia ini, nyatanya semuanya itu akan berakhir dan berlalu. Tetapi sebaliknya Yesus mengajarkan suatu yang bernilai abadi, yaitu Firman (yang adalah perkataan-Nya).
                Melalui nas ini Tuhan Yesus menyampaikan suatu pengajaran yang penting kepada banyak orang dalam pelayanan-Nya. Ia menghendaki agar semua orang mengetahui rahasia Kerajaan Allah dan mau turut ambil bagian di dalam-Nya. Dalam Injil Matius 24, Tuhan Yesus sedang mengajar di bukit Zaitun, di dalam khotbahnya Ia memberikan informasi mengenai suatu masa yang disebut  masa parousia (artinya: kedatangan; atau akhir zaman). Melalui nas ini Yesus menyampaikan: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu”. Tuhan Yesus menyampaikan bahwa setiap pengajaran-Nya, pesan yang disampaikan-Nya, dan juga firman-Nya akan berlaku sepanjang masa. Hal ini dibuktikan ketika apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus memang terjadi ketika Yerusalem dihancurkan dan orang Yahudi berserakan karena mendapatkan perlawanan dari pemerintah kekaisaran Romawi. Apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus juga berlaku sampai saat ini, dimana tanda-tanda yang menyertai kedatangan akhir zaman lambat laun mulai muncul di belahan dunia ini, munculnya pengajaran-pengajaran palsu, banyaknya penyesatan yang dilakukan di sana dan di sini. Apa yang sedang terjadi saat ini menunjukkan bahwa perkataan Tuhan Yesus memang benar terjadi. Perkataan-Nya tidak berubah oleh situasi zaman yang selalu berubah. Biarpun langit dan bumi berlalu, tetapi perkataan Yesus tidak akan berlalu.
                Karena “Firman yang abadi”, maka dalam menyikapi apa yang telah disampaikan oleh Tuhan Yesus, kita harus memiliki suatu dasar yang kuat dan kokoh menanti kedatangan akhir zaman itu (parousia). Perkataan Tuhan Yesus menjadi pegangan yang sangat penting bagi orang yang percaya untuk tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran dunia dan zaman yang berubah-ubah ini. Orang Kristen terpanggil untuk menunjukkan identitasnya sebagai pengikut Kristus yang tetap setia dan taat melakukan perintah-Nya. Walaupun kesetiaan itu memerlukan pengorbanan yang besar, namun hall itupun harus menjadi prioritas utama bagi kehidupan umat Allah untuk dinyatakan, sebab kesanalah Allah menuntun umat-Nya, agar orang yang percaya menjadi saksi-saksi-Nya bagi dunia sampai Injil diberitakan di seluruh dunia ini. (JH).
DOA: Yesus yang baik, berikanlah kepada kami hikmat yang dari sorga, agar kami mampu menyikapi segala peristiwa yang kami alami dengan tetap berpaut dan turut bekerja dalam rencana-Mu sampai kepada kedatangan-Mu kembali. Amin.
Kata-kata Bijak:
Carilah, kejarlah, dan tangkaplah harta karun yang terbesar itu, yaitu Firman Tuhan, sebab Firman Tuhan kekal, abadi selamanya.

Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Minggu, 18  Peburari 2018

AKUILAH DOSAMU DI HADAPAN TUHAN
“Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena
 kebaikan-Mu, ya TUHAN.” (Mazmur 25:7).
                “Gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga.” Arti peribahasa ini adalah oleh karena kesalahan kecil maka kebaikan seseorang akan sirna begitu saja. Memang manusia cenderung mengingat kesalahan seseorang dari pada kebaikan orang tersebut. Orang begitu mudah meninggalkan sahabat lamanya oleh karena kesalahan kecil saja. Ungkapan “tidak ada  kawan dan lawan  abadi yang ada hanyalah kepentingan abadi” pun mengartikan kepentingan kita dapat mengubah sikap kita kepada orang-orang yang dekat dengan kita. Itulah dosa-dosa kita saat ini, yaitu kepentingan kitalah yang kita utamakan dari pada kepentingan Tuhan. Alkitab memperlihatkan hal tersebut: misalnya Raja Daud. Daud itu berkuasa, istrinya banyak, tetapi tega-teganya dia mengambil Betsyeba dengan cara licik.  Balak, raja Moab, meminta Bileam untuk mengutuk orang Israel demi kepentingannya. Yudas Iskariot menerima uang dan menghantarkan Ahli Taurat dan Farisi untuk menangkap Yesus. Masih banyak kisah dalam Alkitab  yang menunjukkan bahwa demi kepentingan atau keinginan kita  akan sering merusak diri kita. Kita ini adalah makhluk ciptaan Tuhan yang diberi kehendak bebas. Namun hal itu tidak berarti bisa sesuka-suka kita. Saat kita melangkah dengan melawan kehendak Tuhan maka kita telah jatuh ke dalam dosa.
                Dosa telah merusak hubungan manusia dengan Tuhan. Akan tetapi Tuhan tetap mengasihi umat manusia. Dia mengutus anak-Nya yang tunggal untuk keselamatan kita. Kita pun kembali berada dalam relasi yang baik dengan Tuhan melalui kasih-Nya yang agung. Namun, apakah kita sesuka hati melakukan dosa pada waktu muda, lalu setelah tua baru mendekat kembali kepada Tuhan? Nas ini bukan hendak mengatakan demikian. Nas ini adalah bagian dari ungkapan pemazmur yang telah mengenal kasih Tuhan yang agung. Hanya saja ada hal yang mengganjal dalam benaknya yaitu dosa yang telah diperbuatnya. Apakah dosa masa lalu tersebut bisa menjadi ganjalan? Pemazmur menyadari bahwa masa lalunya begitu kelam, sehingga ia merasa tidak layak berada di hadapan Tuhan, mungkin ia malu mengenang semua yang telah dilakukannya. Itulah sebabnya ia mengutarakan dihadapan Allah agar masa lalunya tidak diingat lagi oleh Tuhan, karena tidak ada hal yang dapat dibanggakan di sana.
                Apa yang dilakukan oleh pemazmur, yaitu mengakui dosa-dosanya di hadapan Tuhan hendaklah menjadi teladan bagi kita. Dalam saat teduh yang kita lakukan, mungkin kita menyadari betapa banyaknya dosa-dosa kita yang kita lakukan. Apalagi jika kita teringat pada masa musa kita. Mungkin kita tidak mampu untuk datang kepada Tuhan. Kita juga merasa malu di hadapan Tuhan. Tetapi karena kasih-setia dan kebaikan-Nya kita dilayakkan untuk datang kepada-Nya dan mengakui segala dosa dan kejahatan kita. (JH).
DOA:  Bapa Sorgawi, hanya kasih-setia-Mulah yang kami andalkan sehingga kami datang untuk mengaku dosa-dosa kami di hadapan-Mu. Terima kasih atas pengampunan-Mu. Amin.
Kata-kata Bijak:
Datanglah kepada Tuhan, sebab tangan-Nya terbuka untuk menyambutmu.


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Sabtu, 17 Peburari 2018


FIRMAN TUHAN MENUMBUHKAN
“Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku
yang keluar dari mulut-Ku: Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia.”
(Yesaya 55:11a)
                Dahulu dikatakan mulutmu adalah harimaumu, sekarang sudah bertambah yaitu jarijarimu adalah harimaumu. Tentu ungkapan itu menunjukkan kehatihatian dalam mengucapkan sesuatu atau mengetikkan sesuatu di sosial media. Namun dari sisi positifnya ungkapan itu hendak mengatakan bahwa perkataan atau “jari-jari” itu memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Entah itu kekuatan merusak atau memperbaiki, yang pasti kitalah yang mengendalikan mulut dan jarijari kita. Lalu dengan cara bagaimanakah kita mengendalikan mulut dan jari-jari kita? Yaitu dengan mengisi hati dan pikiran kita dengan hal-hal yang baik.
                Mengisi hati dan pikiran kita dengan hal-hal yang baik adalah sedia mendengar, dan mencari Tuhan. Hal-hal yang kita temukan dari kedua aktivitas itu adalah FIRMAN TUHAN. Firman Tuhanlah yang sejatinya kita dengar dan kita cari sehingga kita beroleh keselamatan. Apakah kita bisa tidak mendengar dan mencari Tuhan?  Bisa saja, namun kita akan beroleh konsekuensi yaitu hukuman atau penghakiman dari Allah. Adam dan Hawa tidak mendengar firman Tuhan, Kain pun demikian, Raja Ahab juga tidak mendengar firman Tuhan namun akibatnya adalah mereka semua dihukum oleh Tuhan. Dengan demikian maka mau tidak mau, suka tidak suka jika Tuhan bernubuat maka nubuatan itu pasti digenapi. Firman Tuhan itu pasti terjadi. Seperti hujan dan salju yang turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Demikianlah firman Tuhan, tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia. Apabila Tuhan berfirman pasti akan terpenuhi.
                Dalam Alkitab telah dipaparkan kepada kita saat Tuhan berfirman kepada Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, berbagai upaya dilakukan Firaun agar Israel tidak keluar dari Mesir, namun usaha Firaun gagal. Demikian pula saat umat Israel di pembuangan Babel, di antara umat Israel ada yang putus asa, kehilangan harapan yang mana mereka takkan dapat kembali ke Sion. Namun saat Tuhan berfirman maka tak satu pun dapat membatalkannya kecuali Tuhan sendiri yang membatalkan atau menunda. Jadi firman Tuhan itu pasti terjadi, oleh sebab itu marilah kita menyedengkan telinga dan hati kita untuk sedia mendengar dan mencari Tuhan agar benih firman Tuhan hidup di dalam hati kita yang membaharui hidup kita sebagai pembawa damai sejahtera bagi sekeliling kita. (HUM).
DOA: Terpujilah nama-Mu Tuhan yang telah mengingatkan kami akan firman-Mu yang pasti terjadi. Tolonglah kami untuk sungguh-sungguh percaya akan Firman-Mu. Amin.
Kata-kata Bijak:
Langit dan bumi akan lenyap, tetapi Firman Tuhan akan tetap abadi.


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Jumat, 16 Peburari 2018

MENCARI TUHAN
“Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang
ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap."Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup.“ (Amos 5:5-6a).
                Rumput tetangga lebih hijau dari  rumput sendiri. Ungkapan tersebut menggambarkan orang yang lebih mengagumi milik orang lain dari pada milik sendiri., Misalnya mengagumi kehidupan orang lain dan mengutuk kehidupan sendiri baik itu dalam hal kehidupan keluarga, pekerjaan, pendidikan, dsb.  Ada banyak hal yang tidak mungkin kita adopsi dari kehidupan orang lain ke dalam kehidupan kita.  Namun ada saja orang yang ingin meniru hal tersebut, misalnya gaya hidup seseorang. Demikian juga dalam hal bergereja, kita ingin menginginkan gaya dalam gereja “A” hendak kita masukkan ke dalam gereja kita. Ada yang berupaya memasukkannya misalnya dalam gaya berkhotbah. Akhirnya khotbah pun bagaikan stand up comedy, pengkhotbah pun terjatuh kepada pengaguman diri sendiri dengan memusatkan pemberitaan kepada kehidupannya.
                Nabi Amos mengkritik Yehuda yang mungkin lebih mengagumi Betel, Gilgal tempat peribadahan di Israel Utara, demikian juga Bersyeba. Mungkin mereka merasa ibadah di sana lebih hidup, di sana ada Roh Kudus. Jika dipersamakan dengan masa kini,i mungkin khotbahnya sungguh menghibur, bikin ketawa, tidak “menembaki”, dengan kata lain seturut dengan keinginan kita. Nabi Amos mengatakan jangan pergi ke sana sebab tempat itu akan masuk ke dalam pembuangan dan akan lenyap. Artinya apa yang mereka kagumi itu hanyalah hal-hal yang menyenangkan pendengaran saja, sedangkan firman Tuhan tidak ada di sana. Lalu ke manakah? Tentu yang hendak dikatakan nabi Amos tetaplah beribadah di Yehuda, tujuan beribadah itulah yang harus dikembalikan yaitu mencari Tuhan. Di manakah kita mencari Tuhan? Nabi Amos mengatakan tidak perlu jauh-jauh ke Gilgal dan Betel, tetaplah di Yehuda. Apa yang salah di Yehuda? Ternyata bukan tempat itu yang salah, yang salah adalah cara hidup umat yang bukan lagi mencari Tuhan, tetapi mencari hal yang menyenangkan telinganya, mencari pujian orang lain pada dirinya,, mencari ketenaran dan sebagainya. Para pemuka agama pun tergiur lebih memenuhi keinginan pendengar dari pada keinginan yang mengutus. Keduanya haruslah membaharui diri, umat dan pelayan, yaitu sama-sama sedia mencari Tuhan.
                Tuhan menghendaki agar ibadah kita selaras dengan tindakan, itu sebabnya Firman Tuhan itu mengoreksi kita, membaharui perilaku kita kepada tindakan adil bagi orang-orang di sekitar kita. Ini adalah pekerjaan rumah dari setiap umat bahwa ibadah itu bukan hiburan, bukan show tetapi bakti diri kepada Tuhan. Jika kita menganggap rumput tetangga lebih hijau dari rumput di halaman sendiri, sesungguhnya adalah ajakan bagi diri kita apakah kita sudah mencintai “rumah” kita sendiri, sudahkah kita menaburkan kasih sayang, pengampunan, pertobatan di rumah kita sebagai bentuk implementasi dari mencari Tuhan itu sendiri? (HUM).
DOA: Tuhan ajar kami untuk sedia mencari Engkau di dalam kehidupan kami ini. Amin.

Kata-kata Bijak:
Mencari Tuhan tidak perlu di tempat yang jauh, tetapi Ia ada dekat kita.


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Kamis, 15 Peburari 2018

DENGARLAH SUARA TUHAN
“Tetapi apabila pernah dikatakan: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman"  (Ibrani 3:15).
                Manusia saat ini lebih suka didengar dari pada mendengar. Jika hanya mendengar dianggap tidak memiliki keahlian atau kemampuan. Di televisi pun ada beberapa Reality Show yang memperlihatkan debat yang seru. Terkadang debat itu hanya debat kusir yang tidak didasarkan kepada fakta dan data.  Debat yang terjadi pun terkadang lari dari tema, yang terkadang tidak lagi membicarakan pokok bahasan, tetapi sudah menyerang pribadi dari nara sumber tersebut. Ada juga debat berakhir dengan adu jotos atau paling tidak menumpahkan air minum kepada lawan debat.  Demikian pula di media sosial, jika pendapat seseorang sudah tersudut maka dibuatlah “jurus membabi buta” yaitu menyerang pribadi atau keluarga lawan bicaranya. Demikian pula di lapo (kedai) candaan bisa berakhir dengan perkelahian karena tidak mau menjadi pendengar yang baik.
                Jika kita tidak mau mendengar dan hanya mau didengar, mungkinkah kita akan menemukan jalan keluar dari hal yang diperdebatkan? Kemungkinan besar tidak akan mendapat solusi. Yang ada adalah jurang konflik akan semakin menganga lebar. Apa yang harus kita perbuat agar sedia mendengar? Kesediaan mendengar adalah jika kita berdialog dengan tujuan untuk kedamaian dan juga bertujuan untuk menyelesaikan masalah, menghormati lawan bicara, memahami posisi diri dengan kepada siapa kita sedang berdebat/berdialog, pemahaman bahwa diri kita bukanlah manusia sempurna. Penulis Ibrani pun mengajak pembacanya untuk sedia mendengar suara Tuhan. Dalam nas hari ini dikatakan: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman.”. Kepada umat Israel yang berada di padang gurun Tuhan pernah marah sehingga mereka mati berkelimpangan di padang gurun. Mengapa demikian? Karena mereka tidak mendengar suara Tuhan.
                 Dalam hidup kita saat ini, apakah kita sudah mendengar suara Tuhan dan melalui apakah kita mendengar suara Tuhan?  Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab adalah suara Tuhan kepada umat percaya. Itulah sebabnya kita harus bertekun membaca dan mendengarkan Firman Tuhan melalui Alkitab. Hal yang sama kita juga dapat mendengarkan suara Tuhan lewat  khotbah yang disampaikan hamba-hamba-Nya.  Di samping itu kita juga dapat mendengar suara Tuhan lewat  buku-buku rohani  atau buku-buku renungan yang kita baca. Dalam buku-buku rohani kita juga menikmati kesaksian para penulis yang menyuarakan suara Tuhan. Karena itu marilah dengan terbuka dan tulus mendengar suara Tuhan dalam hidup kita. Suara Tuhan itu menyapa kita dengan lembut untuk menghibur dan menguatkan kita. Suara Tuhan itu juga sering memperingatkan kita agar kita tetap berjalan dalam kebenaran-Nya. Suara Tuhan itu menuntun kita kepada kebahagiaan dan keselamatan. Karena itu perhatikan dan dengarlah suara Tuhan dalam hidupmu. (HUM).
DOA.: Bapa Sorgawi, kuatkan kami Tuhan untuk setia mendengarkan suara-Mu  melalui Firman yang kami dengar. Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Kata-kata Bijak:
“Sudahkah anda mendengar suara Tuhan hari ini?”

Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Rabu, 14 Peburari 2018

SIKAP ORANG PERCAYA
“Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.” (Efesus 3:12).
                Pernahkah kita mengamati orang-orang yang baru memasuki suasana baru, misalnya: tempat kerja, lingkungan, komunitas yang baru? Pasti ada yang masih canggung ketika pertama kali menghadapinya. Ia pasti mengamati dan memperhatikan sekelilingnya, memperhatikan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan, dan suatu ketika ia pun bisa menyesuaikan diri di tengah-tengah lingkungan yang baru itu. Atau dia sendiri menjadi terbiasa melakukan kebiasaan sebagaimana di tempat yang baru. Terkadang kebiasaan itu dianggap suatu kebenaran. Biasanya orang akan mengatakan “pokoknya itu kebiasaan di sini.” Saat ditanya apa arti dari kebiasaan tersebut, mungkin dia tidak bisa menjelaskannya.
                Surat Efesus ini ditujukan oleh Rasul Paulus kepada orang Kristen non-Yahudi, yang mungkin mengalami kebingungan saat bersentuhan dengan orang Kristen Yahudi. Mereka sama-sama mengimani Yesus Kristus namun ada perbedaan yang satu dengan yang lain. Demikian pula para pengajar pun berbeda-beda menyampaikan pengajaran tentang Yesus Kristus, bahkan yang satu dengan yang lain saling menidakkan. Lalu bagaimana menghadapi kenyataan seperti itu? Rasul Paulus menguatkan orang-orang percaya yaitu bahwa mereka (non-Yahudi) juga adalah pewaris dari janji yang telah Tuhan Yesus berikan. Hal itulah yang harus menjadi landasan orang Kristen non-Yahudi untuk tetap dalam iman, entah apa pun yang terjadi. Dengan demikian jika kita telah menjadi warga kerajaan Allah dan ketika kita bersinggungan dengan umat lain, apakah kita akan kembali sebagaimana lingkungan itu ada? Hal inilah yang diingatkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Efesus, yaitu agar mereka memiliki keberanian untuk tetap teguh dalam iman.
                 Ini juga yang disuarakan kepada kita, agar kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh zaman ini. Kita perlu terus menerus merendahkan hati di hadapan Tuhan agar kita dapat mengarungi hidup ini dengan memiliki keberanian yang dari Tuhan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa hidup di dunia ini, kita menghadapi situasi yang cepat berubah. Teknologi yang semakin canggih tentu akan menolong kehidupan manusia. Tetapi dampak negatifnya akan sangat besar tatkala kita tidak bisa mengendalikan diri dalam menggunakannya. Misalnya dampak negatif pemakaian medsos. Selain itu kita tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi pada hari esok. Terkadang kita tidak dapat memprediksi bencana-bencana alam yang terjadi di sekitar kita. Belum lagi terror-teror dari kelompok radikal yang sering mengusik ketenangan masyarakat. Dalam berbagai situasli yang sulit tersebut hendaklah hidup kita digarami oleh iman percaya. Iman yang teguh akan  memampukan kita menghadapi ragam pergumulan dan tantangan.(HUM).
DOA: Bapa Sorgawi, kuatkanlah kami untuk menghadapi tantangan hidup ini. Biarlah kami melangkah dengan tetap mengandalkan iman percaya kami. Amin.
Kata-kata Bijak:

“Apapun tantangan hidup, hadapilah dengan penuh iman.”


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Selasa, 13 Peburari 2018

INJIL MEMBAHARUI HIDUP KITA
“Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita,
dengan semua orang kudus-Nya.” (1 Tesalonika 3:13).
               
                Orang tua berjibaku untuk memenuhi kebutuhan dari seisi keluarga. Terkadang orang tua “menyiksa diri” dengan menghemat. Hal-hal yang diingininya pun ditunda bahkan tak dinikmatinya demi kebutuhan isi keluarga. Lagu Anangkonhi do hamoraon di au sangat populer bagi suku Batak, karena menggambarkan pengorbanan sang orang tua demi keberhasilan sang anak.  Semua keletihan, kesukaran dari sang orang tua akan sirna jika sang anak yang diperjuangkannya menghargainya, mensyukuri dan orang tua melihat sang anak berhasil. Jerih payah orang tua tidak akan sia-sia jika melihat anak-anaknya berbahagia. Anak-anak adalah kebahagiaan dari orang tua.
                Mungkin hal tersebut memiliki kemiripan dengan apa yang dialami oleh Rasul Paulus. Setiap pekabar Injil menghendaki jerih payahnya menghasilkan buah. Berita baik dari orang-orang yang diinjilinya akan mendatangkan kebahagiaan bagi sang pekabar Injil tersebut. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang disampaikan sebuah iklan yang bunyinya “Senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.”Setelah Timotius diutus untuk menyampaikan Kabar Baik ke jemaat Tesalonika maka iman mereka bertumbuh di tengah-tengah kesusahan yang mereka hadapi.  Kesusahan yang sedang mereka hadapi tidak membuat iman mereka melemah. Lalu bagaimana dengan keadaan Rasul Paulus? Sesungguhnya diapun sedang dalam kesesakan dan kesukaran, dia terhibur oleh karena kabar baik dari Jemaat Tesalonika.  Sebagai seorang pemimpin sekaligus hamba Tuhan, Rasul Paulus bergembira di atas kegembiraan dari jemaat Tesalonika. Kesukaran yang dihadapinya serasa hilang dengan sendirinya, sehingga yang ada padanya adalah kebahagiaan. Karena itu ia mengharapkan agar  jemaat Tesalonika tidak mudah berpuas diri. Mereka harus bertahan dan tetap kuat di hadapan Allah pada waktu kedatangan Yesus kembali.  
                Hal itu juga yang disuarakan oleh Rasul Paulus kepada kita dalam situasi masa kini. Ketika kita menghadapi berbagai kesusahan maka iman kita harus kuat. Kekuatan kita dalam menghadapi berbagai kesukaran hidup hanyalah pertolongan Tuhan. Sebagai orang-orang percaya, bagaimana kita menantikan kedatangan Yesus tersebut. Dalam nas ini kita diajak untuk hidup tak bercacat atau kita harus dalam kekudusan. Kita tahu ada banyak tantangan dan kesusahan yang menghampiri hidup kita. Namun jika Tuhan bersama dengan kita, maka kita akan beroleh kekuatan menghadapi kesusahan tersebut, dan kita pun tidak akan mudah jatuh ke dalam keputusasaan, sebagaimana jemaat Tesalonika setelah mendengar firman Tuhan, iman mereka pun bertumbuh dan mereka saling mengasihi.(HUM).
DOA: Bapa Sorgawi, biarlah oleh firman-Mu kami dikuatkan menghadapi berbagai kesukaran di dalam hidup ini. Amin.
Kata-kata Bijak:
“Kesukaran akan berganti menjadi kebahagiaan ketika Injil memenuhi hati kita.”


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Senin, 12 Peburari 2018

JANGAN MENYERAH TERUSLAH BERJALAN
“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa
yang mengasihi Dia.” (Yakobus 1:12)

                Akhir-akhir ini ilmu pengetahuan “diguncangkan” oleh Anak-anak setingkat SMA di Jepang atas hasil percobaan mereka mengenai telur yang menetas di luar cangkang.  Anak ayam tersebut berkembang dengan baik. Namun belum ada percobaan kupu-kupu yang berkembang sempurna tanpa cangkang (kepongpong). Kupu-kupu dan katak disebut mengalami metamorfosis sempurna. Hanya cara pandang kita yang mungkin melihat kupu-kupu dan katak tersebut mengalami hal yang tak baik. Misalnya Kupu-kupu harus melalui fase telur, fase larva (ulat), fase kepongpong (pupa), fase kupu-kupu (imago). Saat menjalani fase ulat dan kepongpong tentu sangat menjijikkan bahkan menakutkan. Namun saat telah menjadi kupu-kupu, kita pun ingin menangkap atau kita mengagumi kupu-kupu yang terbang kian kemari di antara bunga-bunga. Kita pun lupa bahwa dulu kupu-kupu itu dulu adalah ulat, atau seonggok kepongpong. Kita pun melupakan rangkaian perjalanan yang telah dilaluinya.
                Demikian pula, saat kita membaca biografi dari orang-orang yang berhasil. Mereka tidak serta merta berhasil, ternyata mereka menjalani pasang surut dalam kehidupan ini. Alkitab pun memperlihatkan hal tersebut, seperti hidup Abraham dan Sarah, demikian pula Yusuf. Artinya tidak ada orang yang terbebas dari kesulitan. Hal yang perlu kita pelajari adalah bagaimana cara hidup bertahan dalam pencobaan? Surat Yakobus menekankan akan keselarasan iman dan perbuatan. Iman itu tidak sekedar kata-kata. Iman itu harus diwujudkan dalam tindakan dan perilaku. Penulis Surat Yakobus menyadari tidak mudah untuk menyelaraskan hal tersebut. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi terlebih bagaimana memahami berbahagia di tengah-tengah pencobaan. Hal yang dapat menghantarkan kita untuk memahami ini adalah kala kita berhasil sampai pada garis finish dari apa yang kita jerih lelahkan.
                Jika kita merasa bahwa tidak ada yang baik yang kita petik dari penderitaan yang kita alami, apakah kita berhenti mengimani Tuhan?  Alkitab memperlihatkan Yusuf yang sudah jatuh ditimpa tangga pula, yang sudah dibenci saudara-saudaranya, lalu dijual, menjadi budak dan akhirnya dipenjara pula. Bukankah itu gambaran dari kehidupan yang amat berat. Demikian pula Kristus yang dari sorga menjadi manusia, menderita, mati di kayu salib? Namun apakah itu akhir dari segala kehidupan mereka? Ternyata tidak. Yusuf menjadi orang kedua dari Raja Firaun, Ayub dipulihkan Tuhan, Yesus Kristus bangkit. Bukankah ini suatu pesan kepada kita tentang pengharapan dari Tuhan? oleh sebab itu jangan menyerah terhadap penderitaan. Kita adalah orang-orang yang berbahagia jika kita memiliki pengharapan bahwa Tuhan Yesus menyertai hidup kita.(HUM).

DOA: Yesus Kristus, walau penderitaan silih berganti dalam hidup kami. Namun kami Yakin Engkau adalah sumber pengharapan kami Amin.

Kata-kata Bijak:
“Berhagialah kita yang berpegang teguh ke dalam pengharapan


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Minggu, 11 Peburari 2018

MENJADI KESAYANGAN TUHAN
“Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham.”
(Galatia 3 : 7)

                Seorang ibu bersaksi bahwa ia sangat menyayangi semua anak-anak-Nya. Namun, ia juga jujur bahwa ia memiliki rasa sayang yang berbeda dari salah satu anaknya itu. Artinya, ada anak yang menjadi “kesayangan” di dalam hatinya. Mengapa ada anak “kesayangan” di dalam hati si ibu, ternyata itu karena anak tersebut pernah meregang nyawa karena sakit dimasa bayi. Peristiwa itu membuat rasa sayang si ibu menjadi penyemangat untuk anak tersebut agar ia bisa selamat dan bertahan hidup. Kasih yang tampak dari seorang ibu itu sesungguhnya sama kepada semua anaknya, tetapi karena peristiwa yang “sulit atau masa kritis” pada salah seorang anaknya itu membuatnya menjadi anak kesayangan di dalam hati si ibu. Kesaksian itu sangat masuk akal dan manusiawi, sebab memang ukuran kesayangan itu adalah karena adanya keterikatan, baik batin atau emosi, pikiran dan spiritual.
                Rasul Paulus juga mengingatkan jemaat Galatia akan kekeliruan mereka yang sebelumnya sudah percaya kepada Tuhan Yesus, kemudian beralih kepada pengajaran hukum taurat. Hal yang ditegaskan Paulus adalah Abraham dibenarkan karena imannya (Kej.15:6), sehingga setiap orang yang percaya dengan iman seperti Abraham adalah anak-anak Abraham yang juga dibenarkan (ay.7) dan hukum taurat diberikan tidak untuk membenarkan orang berdosa, namun untuk menyatakan keberdosaan (ay.10). Paulus juga menekankan bahwa anugerah keselamatan hanya dapat diperoleh oleh karena iman kepada Kristus. Bukan karena, perbuatan baik, garis keturunan ataupun melakukan hukum taurat. Dalam hal inilah jemaat Galatia harus mengingat dan menyadari kembali bahwa mereka sudah diselamatkan dari kutuk hukum taurat (ay.13) oleh karena kematian Kristus dikayu salib. Sehingga setiap orang (siapapun) yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus akan menjadi selamat dan mendapatkan kasih karunia dari Allah.
                Jika seorang ibu saja sanggup lebih mengasihi anaknya yang sedang sakit atau kritis sehingga menjadi “kesayangan” di dalam hati, terlebih lagi Allah kita. Tuhan Allah pun sangat mengasihi semua manusia, terlebih kepada orang-orang yang berdosa dan yang seharusnya mati binasa. Namun, justru orang-orang yang berdosa itu yang lebih dikasihi Tuhan; supaya selamat dan menjadi anak kesayangan-Nya. Karena itulah, setiap orang yang berdosa dan mau percaya kepada Tuhan Yesus pun akan selamat, sebab Tuhan Yesus sangat mengasihi semua manusia, terlebih orang-orang yang hidupnya ada dalam masa yang “sulit dan kritis”. Sudahkah kita menyadari bahwa kita ini adalah anak kesayangan Tuhan? (ES).

DOA: Ya Tuhan Yesus, ajar kami untuk tetap percaya kepada-Mu. Tambahkanlah iman kami agar kami tetap setia hidup dalam anugerah-Mu. Amin

Kata-kata Bijak:
Kasih anak sepanjang galah.
Kasih ibu sepanjang masa.
Kasih Tuhan kekal selama-lamanya. 


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Sabtu, 10 Peburari 2018


TENTUKAN PILIHANMU
“Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir  dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” (Markus 10 : 31).

                Seorang pemuda pernah bersaksi tentang pengalamannya di ibukota dalam mengejar cita-cita dan masa depannya. Usaha dan kerja keras sudah dilakukannya dan berharap bahwa ia dapat mengumpulkan rejeki untuk membangun kesuksesan dan berumahtangga. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan agar semua keluarga dan orang di kampungnya dapat melihat kesuksesan yang akan diperolehnya. Dengan tekat semua hasil kerjanya itu akan dipakai menjadi modal pesta, membayarsinamot dan modal berusaha. Setelah tiga tahun ia bekerja dengan keras bahkan terlibat banyak pelayanan di gereja, semua mimpi itu rasanya semakin jauh dari realita hidupnya. Harapannya berubah, pikirnya bekerja keras dan rajin ke gereja ternyata tidak berdampak terhadap cita-citanya. Akhirnya ia membiarkan hidupnya berjalan seperti air mengalir, tidak lagi dalam semangat yang mula-mula dan sangat jarang tampak di gereja.
                Injil Markus ini menjelaskan kisah orang kaya yang tidak bersedia melepas hartanya untuk mengikut Tuhan Yesus, sehingga Tuhan Yesus pun menjelaskan kembali kepada para murid agar mereka semakin mengerti tentang maksud-Nya memanggil mereka. Dalam kesempatan itu Petrus pun mencoba meyakinkan-Nya dengan segala sesuatu yang telah mereka tinggalkan. Tuhan tahu hati Petrus dan menjawabnya agar mengerti dengan rencana yang sudah dipersiapkanNya bagi mereka, sekaligus mengingatkannya bahwa “banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu (ay.31).”Hal ini menegaskan bahwa upah mengikut Kristus tidak dapat dihitung menurut ukuran dunia. Sehingga Tuhan harus mengingatkan tentang bahaya kesombongan bagi mereka yang merasa lebih dahulu telah menjadi orang percaya, karena orang yang demikian bisa menjadi orang yg terakhir.
                Firman Tuhan ini mengingatkan kita sebagai orang percaya agar perlu mawas diri, sebab tantangan iman akan terus berlangsung sepanjang jalan hidup. Komitmen sebagai orang percaya kepada Kristus akan terus diuji dari motivasi dan tantangan yang dihadapi. Konsekuensi mengikut-Nya akan semakin sulit bahkan sering sekali dianggap sebagai “kerugian” oleh mereka yang mengaku Kristen tetapi sesunguhnya masih haus untuk mencari keuntungan duniawi. Seperti kisah pemuda diatas, yang sulit melepaskan “ambisi” pribadinya, karena ingin meraih sukses demi kehendaknya sendiri, akhirnya sulit berserah penuh untuk mau mendengarkan suara-Nya dan mengikut-Nya. Bagaimana dengan kita, masihkah kita menuntut sesuatu dari Tuhan atas pelayanan ataupun pengorbanan kita kepada-Nya? (ES).

DOA: Ya Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu yang mengingatkan kami akan motivasi dan keinginan kami. Ajarlah kami mawas diri, untuk senantiasa tunduk dalam rencana panggilan-Mu. Amin

Kata-kata Bijak:
Banyak yang terpanggil tetapi sedikit yang terpilih.
Kalau sudah menyatakan diri terpanggil, teruslah mawas diri tanpa pamrih.


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Jumat, 9 Peburari 2018

INGAT DAN ANDALKAN TUHAN
“Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama Tuhan, Allah kita.” (Mazmur 20 : 8).

                Sulit rasanya menghadapi zaman sekarang yang serba canggih dengan teknologi yang terus berkembang dengan cepat. Belum sempat kita menggunakan produk teknologi yang satu, sudah muncul lagi produk yang baru. Rasanya kita semakin tertinggal dan tidak bisa mengikuti kemajuan zaman ini apalagi ketika masyarakat sekitar kita sudah mulai pamer dengan apa yang mereka miliki. Kemewahan dan kecanggihan teknologi bukanlah ukuran dari damai sejahtera dan sukacita yang dicari oleh manusia. Sebab benda-benda canggih apapun tidak akan mampu memberikan sukacita dan kebahagian yang sejati. Secanggih apapun benda buatan manusia tidak dapat menjamin dan menggantikan rasa aman dan damai sejahtera yang diberikan-Nya.
                Firman Tuhan kali ini juga mengungkapkan tentang kegirangan Daud atas kemenangan gemilang yang diperolehnya dari doa orang-orang saleh (ay.10). Daud menyadari bahwa kemenangan yang didapat itu merupakan buah dari kesetiaan mereka dalam mengingat dan mengandalkan Tuhan di dalam situasi dan kondisi yang mereka. Sangat berbeda dengan orang-orang yang hanya bermegah dan mengandalkan kehebatan kereta dan kuda. Mereka bergantung kepada hal-hal yang sesungguhnya tidak memberikan jaminan;sebab kuda dan kereta sangat terbatas dan tidak mampu menyelamatkan.Itulah perbedaan yang diungkapkan oleh Daud, disaat mereka percaya dan bermegah kepada Allah maka mereka senantiasa berdiri tegak dan berhasil mendapatkan kemenangan dalam situasi apapun. Karena itulah umat Tuhan akan mampu bersukacita di dalam kondisi tersulit sekalipun jika mereka mengingat dan mengandalkan Tuhan.
                Bagaimana kehidupan orang percaya pada sekarang ini dalam menyikapi kecanggihan tehnologi yang seolah-olah mampu memberikan “solusi” atas kebutuhan hidup manusia? Teknologi tentu berguna tetapi terbatas, dan tidak mampu menjadi andalan atas segala hal yang kita hadapi dan butuhkan dalam hidup ini. Karena itulah orang percaya harus tetap ingat dan mengandalkan Tuhan senantiasa, sebab dengan beriman kepada-Nyalah kita akan melihat bahwa bergantung pada benda-benda yang ada di dunia hanya akan mengecewakan tetapi penyertaan Tuhan akan selalu baru dan indah pada waktu-Nya. (ES).

DOA: Ya Tuhan Yesus, ajar kami untuk mengenal lebih lagi kuasa-Mu. Agar kami semakin percaya melihat kuasa-Mu mengatasi segala sesuatu. Dalam iman yang kami bangun kepada-Mu. Amin.

Kata-kata Bijak:
Orang bodoh mengandalkan harta benda.
Orang pintar mengandalkan pikirannya.
Orang percaya mengandalkan imannya.


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Kamis, 8 Peburari 2018

KENDALIKAN KEDAGINGANMU
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
(Efesus 2 : 10).

                Belakangan ini berita di berbagai media sangat heboh dengan fenomena Digiseksual alias manusia lebih suka berhubungan seks dengan boneka. Hal itu terungkap ketika laporan yang digagas oleh Neil McArthur dan Markie Twist dari University of Manitoba bahwa sekarang ini banyak orang yang tergila-gila dengan boneka seks. Bahkan tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa membeli boneka tersebut, bisa mencapai ratusan juta rupiah. Namun, fonenoma ini menjadi hal yang dianggap penting karena seolah-olah kebutuhan akan boneka seks adalah menjadi kebutuhan yang harus dipenuhii manusia di dalam hidupnya. Benarkah demikian juga kebutuhan hidup orang percaya?
                Firman Tuhan dalam perikop ini mengajarkan tentang bagaimana tanggungjawab kehidupan orang percaya yang sudah hidup dalam penebusan Tuhan Yesus. Paulus menekankan bahwa orang-orang percaya adalah orang-orang yang telah diselamatkan dari kematian yang seharusnya dimurkai oleh Allah karena sebelumnya hidup dalam hawa nafsu daging (ay.1-3). Karena itu keselamatan hidup yang dimiliki oleh orang percaya bukanlah hal yang harus disombongkan dan dimegahkan. Kita sebagai manusia percaya adalah buatan Allah yang baru, yang diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan yang baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (ay.10). Tuhan mau kita hidup untuk memuliakan-Nya, melakukan pekerjaan kasih. Sehingga, RohNyalah yang harus mengendalikan hidup kita untuk dapat melakukan pekerjaan baik, dan bukan lagi untuk memuaskan keinginan kedagingan atau hawa nafsu.
                Bagaimana dengan sikap orang percaya yang telah menerima anugerah keselamatan menyikapi fenomena digiseksual yang sedang hoboh pada zaman now? Ini menjadi tantangan gereja dalam melihat roh-roh zaman yang tampak dalam berbagai rupa-rupa kedagingan. Gereja masih sedang bergumul menghadapi persoalan LGBT dan harus juga menyikapi fenomena digiseksual alias boneka seks yang sedang marak saat ini. Seperti tanda-tanda zaman yang sudah dijelaskan oleh Paulus kepada jemaat Efesus di atas, marilah kita melakukan pekerjaan yang baik, seperti yang Tuhan mau dari hidup kita. Semua itu akan dapat kita kerjakan jika mau taat dan tinggal di dalam firman-Nya serta berusaha mengendalikan kedagingan kita, sebab roh memang penurut tetapi daging lemah. (ES)

DOA: Ya Tuhan Yesus, ajar kami untuk tetap tinggal didalam setiap Firman-Mu. Supaya kami mampu melakukan pekerjaan baik dan hidup dalam pengharapan kasih-Mu. Amin.

Kata-kata Bijak:
Makanan rohani menjadi penting untuk melatih roh mengendalikan kedagingan.
Supaya rohani kuat maka perlu diberi Firman Tuhan.



Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Rabu, 7 Peburari 2018

HATIKU BERSERAH PENUH
“Siapakah yang mengalahkan dunia, selain daripada dia yang percaya  
bahwa Yesus adalah Anak Allah?” (1 Yohanes 5 : 5).

                Tenanglah kini hatiku: Tuhan memimpin langkahku, di tiap saat dan kerja tetap kurasa tangan-Nya. Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh. Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh. Lagu KJ. No 410 ini memiliki pesan yang sangat kuat bagi setiap orang yang sedang mengharapkan ketenangan hati dari Tuhan. Penulis lagu ini mengungkapkan bahwa bersama Tuhan-lah ia merasa tenang ketika melangkah dan bekerja. Mengapa lagu ini menjadi berkuasa dan mampu memberi kekuatan bagi hidup penulis? Tentu pengalaman pribadi orang yang menuliskan lagu ini ketika berserah kepada Tuhan Yesus menjadi kenyataan dan bukti bahwa hanya Tuhan yang setia memegang tangannya dan membimbingnya setiap saat.
                Firman Tuhan dalam perikop ini juga memperlihatkan bahwa ada tanda atau bukti bagi orang yang percaya penuh kepada Yesus Kristus. Tanda itu adalah tanda yang berasal dari Allah, yaitu mau melakukan perintah-Nya; mengasihi sesama saudara seiman. Sehingga sekalipun pergumulan terus datang dan berkesinambungan tetapi orang percaya sudah terlebih dahulu mengalami kemenangan mengalahkan dunia karena iman kepada Kristus. Sehingga setiap orang yang percaya kepada Yesus berarti adalah Anak Allah, dan setiap anak Allah akan mengalami kuasa Allah dari kasih Kristus, yaitu mampu mengalahkan dunia yang berdosa, sekuler dan penuh dengan kefasikan. Sebab di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut ia tidak sempurna di dalam kasih (1Yoh.4:8).  
                Bagaimana cara kita mengalahkan dunia? Bagaimana cara kita tenang dan aman melakukan berbagai aktifitas dan pekerjaan kita? Ada kalanya kekuatan kita akan terasa habis dan kita seperti tidak sanggup lagi meghadapi semuanya. Sebelum hal itu terjadi, ingatlah dan percayalah sepenuhnya kepada Tuhan Yesus, sebab hanya dengan beriman kepada-Nyalah kita akan mampu menghadapi semua tantangan dengan tenang, karena Ia yang tetap memegang tangan kita dan senantiasa membimbing kita. Maukah kita berserah penuh kepada-Nya? Dalam kondisi apapun, dan sekalipun kita terpuruk, teruslah berdoa dalam iman, bahwa kasih-Nya selalu ada menghibur dan menguatkan kita. Amin. (ES)

DOA:Ya Tuhan Yesus. Aku berserah penuh kepada-Mu. Pegang tanganku dan tuntunlah hidupku berjalan bersama-Mu.  Amin

Kata-kata Bijak:
Beriman di saat suka adalah hal yang biasa. Berani terus beriman di saat duka
dan bencana adalah bukti akhir orang percaya.


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Selasa, 6 Peburari 2018

HAPPY ENDING
“Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada
di Taman Firdaus Allah” (Wahyu 2 : 7b)


                Bulan Februari adalah bulan yang sangat istimewa bagi anak muda. Disebut istimewa karena ada peristiwa yang sangat diingat dan menjadi penanda bagi mereka. Bahkan pada bulan ini banyak pasangan yang menentukan hari pernikahannya agar momen pernikahan mereka dapat dirayakan oleh semua orang. Tidak heran pada bulan ini semua benda dan ornamen yang ada berubah warna menjadi merah jambu, yaitu warna yang sangat diingat oleh semua orang sebagai warna kasih sayang. Momen hari kasih sayang ini merupakan hal yang sangat istimewa bagi orang yang merayakannya. Hanya saja, sering sekali kasih sayang itu dimaknai hanya sebatas warna merah jambu (pink), bulan dan momen. Ketika bulan Februari berlalu maka kasih sayang pun hilang dan semua menjadi sendu dan kelabu tanpa happy ending.
                Demikian juga kasih sayang jemaat Efesus yang diceritakan oleh Yohanes dalam perikop ini. Jemaat Efesus pada awalnya hidup di dalam kasih Kristus, namun karena adanya ajaran sesat yang berkembang pada masa itu membuat mereka menjadi benci terhadap berbagai pengajaran palsu dan menyesatkan itu. Akhirnya kuasa kebencian itu membuat sikap hidup mereka sangat ketat terhadap ajaran sesat dan akhirnya mereka tidak lagi memiliki kasih kepada orang-orang yang telah berbuat dosa dan pendusta itu (ay.2). Hal inilah yang dimaksudkan bahwa mereka telah kehilangan kasih mereka yang semula (ay. 4). Tuhan mau mereka bertobat dan melakukan lagi kasih mereka kepada Tuhan Yesus, yaitu kasih yang tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama manusia, seperti yang ditekankan dalam 1 Yoh.4:20, “Jika seorang berkata: ‘aku mengasihi Allah’, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” Karena itulah jemaat Efesus harus mau mendengarkan apa yang disampaikan kepada mereka karena Tuhan juga telah menyediakan kehidupan yang kekal bagi setiap orang yang melakukan perintah Kasih-Nya.
                Firman Tuhan inilah yang menjadi pegangan bagi setiap orang percaya, bahwa mengasihi sesama bukanlah hanya pada saat merayakan hari kasih sayang, apalagi hanya di bulan Februari. Sebab kasih sayang itu tidak hanya terbatas pada hari, minggu atau bulan, bahkan momen tertentu, tetapi kasih sayang itu adalah happy ending. Kasih sayang adalah tanda dari hidup kita sebagai orang percaya yang setiap hari penuh dengan sukacita dan kasih sayang nyata kepada sesama. Jika tanda itu ada pada kita dan kita terus bertahan melakukannya maka kita akan memperoleh hadiah, yaitu makan dari pohon kehidupan, yang artinya adalah kita menerima kehidupan kekal bersama Tuhan Yesus di sorga. Maukah kita setia sampai happy ending? Amin. (ES)

DOA: Ya Tuhan Yesus, penuhi hambamu dengan kasihMu, agar hamba tetap setia dan dapat melakukan kasih-Mu sampai akhir hidupku. Amin

Kata-kata Bijak:
Jika kasih sayang itu penting dalam relasi sosial, maka marilah kita melakukan
 kasih itu sampai Happy Ending.

Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Senin, 5 Peburari 2018

TELADAN ZAMAN NOW
“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah semua itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” (Filipi 4:9)

                Siapa yang tidak bangga memiliki presiden yang sungguh luar biasa dan menjadi inspirasi bagi seluruh rakyatnya? Masyarakat Indonesia, khususnya daerah yang selama ini tidak pernah dikunjungi dan tidak pernah “tersentuh” pembangunan telah berubah dan berkembang. Masyarakat tidak hanya mendengar dan melihat melalui berbagai media tetapi merasakan pembangunan yang berlangsung; akses transportasi mulai dari Sumatera hingga Papua. Bahkan banyak orang yang heran dengan Pak Jokowi yang terus semangat bekerja untuk mendatangkan kesejahteraan dan keadilan bagi bangsa Indonesia. Dunia juga mengakui beliau sebagai presiden fenomenal yang mampu membawa Indonesia kembali ke kancah dunia. Semangat dan teladan hidupnya menginspirasi bahwa kita pun harus membangun bangsa ini dengan kerja, kerja, kerja.
                Kerja buat Tuhan selalu manise. Itulah yang dapat menggambarkan sukacita Paulus dalam mengingatkan dua rekan kerjanya, Euodia dan Sintikhe agar tetap bersukacita dalam melayani Tuhan. Mereka adalah rekan kerja sepelayanan Paulus dalam berjuang memberitakan Injil (ay.3). Karena itu Paulus sangat berharap agar mereka tetap sehati sepikir (ay.2), bersukacita di dalam Tuhan (ay.4) dan jangan khawatir serta tetap berpengharapan kepada Alah di dalam doa (ay.6). Dalam semua itulah damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiran mereka. Paulus tidak hanya mengatakan nasihat itu kepada mereka, tetapi ia juga hidup dalam perkataannya dan menunjukkan teladan hidupnya sebagai contoh nyata yang harus mereka ikuti. Karena itulah Paulus menekankan, “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah semua itu”….(ay.9). Nasihat Paulus merupakan teladan hidup melalui perkataan dan tindakan. Ia mampu melakukannya karena damai sejahtera Kristus telah lebih dahulu tinggal dalam hatinya.
                Firman Tuhan ini mengingatkan kita, bahwa setiap orang percaya harus tetap menjadi teladan pada zaman sekarang ini (istilahnya zaman now). Kita harus menunjukkan teladan hidup melalui apa yang kita kerjakan bukan sekedar ucapan tanpa perbuatan. Sebab, pada zaman now, kita hanya dapat melakukan perubahan kecil hanya melalui perbuatan atau tindakan. Artinya, karya dan teladan hidup kitalah yang akan dilihat orang. Itulah yang harus kita kerjakan sebagai perbuatan baik yang harus diketahui oleh semua orang. Seperti Pak Presiden Jokowi yang terus senang bekerja, maka perbuatan dan teladan hidupnyalah yang sesungguhnya dirasakan. Bagaimana dengan kita sebagai orang percaya, sudahkah kita senang bekerja untuk Tuhan? (ES)

DOA: Ya Tuhan Yesus, ajar kami untuk bersukacita kepada-Mu supaya kami dapat senantiasa bersaksi di dalam melakukan firman-Mu. Amin.

Kata-kata Bijak:
Semua pekerjaan yang dilakukan dengan baik adalah ibadah kepada Tuhan.
Orang yang bekerja untuk Tuhan akan melakukan yang terbaik sebagai sebuah teladan.


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Minggu, 4 Peburari 2018

INDAH RENCANAMU TUHAN
“Sebab rancanganku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku,
demikianlah firman TUHAN.”  (Yesaya 55:8).
                Sebuah lagu yang membangkitkan semangat pengharapan kepada Tuhan adalah lagu yang berjudul “Indah Rencana-Mu Tuhan”, karya Pdt. J.E. Awondatu. Dalam lirik lagu itu kita membaca seperti ini: “Indah rencana-Mu Tuhan di dalam hidupku. Walau ku tak tahu
dan ku tak mengerti, semua jalan-Mu. Dulu ku tak tahu Tuhan berat kurasakan. Hati menderita dan ku tak berdaya menghadapi semua. Kini kumengerti s'karang Kau tolong padaku. Kini kumelihat dan kumerasakan indah rencana-Mu…” 
 Pesan yang indah yang tersirat dalam lagu ini adalah bahwa di tengah-tengah penderitaan yang sedang kita hadapi marilah kita tabah dan berpikir positif sebab di balik penderitaan itu ada rencana Tuhan yang terindah.
                Makna seperti itulah yang kita lihat dalam firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya sebagaimana dalam nas ini.Ternyata di tengah-tengah pembuangan Babel, bangsa Israel merasakan penderitaan yang berat. Mereka mengalami tekanan-tekanan dari penguasa dan mereka terkungkung dalam suatu penindasan bangsa yang tidak mengenal Allah. Hubungan persekutuan mereka dengan Tuhan juga hancur sebab mereka jauh dari pusat peribadahan mereka, yaitu Sion. Belum lagi mereka sangat kecewa akibat Bait Suci yang sudah hancur. Dalam kondisi seperti itulah Nabi Yesaya menyampaikan berita penghiburan kepada mereka bahwa Tuhan akan membebaskan mereka dari pembuangan. Pembebasan itu berpusat kepada Mesias yang akan datang di mana Ia akan mendirikan kerajaan-Nya di bumi kelak. Tindakan pembebasan itu adalah anugerah pemberian Allah. Itulah sebabnya gambaran keselamatan itu dilukiskan seperti orang yang minum dan makan tanpa bayar  atau gratis (Yes.8:1-2). Suasana keselamatan itu sungguh indah, sebab semuanya itu telah dirancang oleh Tuhan dengan baik. Itu juga menunjukkan bahwa sekalipun bangsa Israel menderita dalam pembuangan, tetapi Tuhan telah merancang suatu keadaan umat yang penuh damai dan sukacita pada masa yang akan datang. Hal itu mungkin sulit diterima oleh orang-orang yang menderita dalam pembuangan. Itulah sebabnya Yesaya menyampaikan Firman Tuhan: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.”
                Banyak orang sekarang hampir menyerah dan mengatakan, sudahlah aku tidak sanggup lagi menghadapi penderitaan ini. Terlalu berat rasannya untuk hidup dan biarlah aku mati saja. Jika kita memiliki perasaan seperti itu sekarang, kita bukanlah orang yang berkenan kepada Tuhan. Sebaliknya Tuhan memanggil kita untuk tetap memiliki pengharapan dan tabah dalam segala pergumulan yang kita hadapi. Sebab kita percaya bahwa di balik penderitaan itu Tuhan pasti sudah merancang sesuatu yang indah bagi kehidupan kita.
DOA : Bapa Sorgawi, biarlah kami percaya akan rancangan yang terindah dalam hidup kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.  
Kata-kata Bijak:
Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi rancangan Tuhanlah yang terjadi.

 

Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Sabtu, 3 Peburari 2018

ALLAH SUMBER PENGHARAPAN
“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera  dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” (Roma 15:13).
Semua orang memiliki pengharapan yang indah di hari esok. Para petani mengharapkan panen yang berhasil. Para nelayan mengharapkan hasil penangkapan ikan yang banyak. Orang tua mengharapkan anak-anaknya sukses dalam karier. Para pekerja mengharapkan gaji yang besar untuk hidup yang lebih baik. Pengharapan itu menjadi suatu cita-cita yang diperjuangkan pada masa kini agar terwujud di masa depan. Tentu untuk mewujudkan pengharapan itu tidak semudah membalikkan tangan. Kita harus pintar dan berhikmat bagaimana untuk mencapainya. Barangkali juga kita perlu bantuan dari orang-orang yang bisa menolong kita untuk menggapai pengharapan itu. Tidak sedikit orang sukses mencapai impiannya pada masa kini dikarenakan bantuan orang lain terhadap dia. Bagaimana dengan kita sebagai orang-orang percaya, kepada apakah kita meletakkan pengharapan kita?
Melalui nas hari ini kita mau melihat bagaimana Rasul Paulus menasihatkan orang-orang Kristen yang ada di Roma agar kiranya memiliki pengharapan hanya kepada Allah saja, sebab hanya Allah sajalah sumber pengharapan bagi mereka. Sebagai orang-orang yang telah menerima keselamatan, mereka terpanggil untuk menaruh pengharapan kepada Allah. Juga  mereka terpanggil untuk meletakkan pengharapannya atas seluruh kasih karunia yang telah dianugerahkan. Jika pengharapan mereka tertuju kepada Tuhan, maka mereka akan menikmati berkat-berkat rohani yaitu segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman. Hal yang sama juga terjadi bagi bangsa-bangsa lain, yaitu bahwa dalam Kristus bangsa-bangsa juga akan menaruh pengharapan kepada Allah (ay.12). Tentu hal itu bisa terjadi berkat pekerjaan atau karya Roh Kudus. Dengan kekuatan Roh Kudus yang bekerja dalam diri anggota jemaat Roma makan akan mendorong munculnya pengharapan yang berlimpah-limpah kepada Allah.
Sebagai orang-orang percaya, kita memiliki banyak pergumulan-pergumulan dalam hidup ini. Barangkali kita sedang dirungdung malang, atau kita memiliki beban-beban yang menekan hidup kita. Mungkin saat ini kita tidak bernasib baik dan kita sedang mengalami penderitaan. Kepada siapakah kita mengadu dan berharap? Nas Firman Tuhan hari ini memberikan kekuatan kepada kita agar kita  memiliki pengharapan kepada Allah. Sebagai orang percaya kita tidak boleh putus asa dan pesimis. Kita harus memiliki pengharapan kepada Allah. Kita harus bangkit dari keterpurukan. Dalam iman kita kepada Tuhan kita percaya bahwa badai pasti berlalu. Hari esok pasti lebih baik. Terlebih dalam iman kita memiliki pengharapan akan hidupyang kekal. Barangsiapa yang percaya kepada Kristus, tidak akan binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.
DOA : Bapa Sorgawi, kuatkan dan teguhkanlah iman kami untuk memiliki pengharapan yang teguh, sebab hanya Engkaulah sumber pengharapan hidup kami. Amin.
Kata-kata Bijak:
Pengharapan kita adalah pengharapan yang hidup dalam Kristus Yesus.

Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Jumat, 2 Peburari 2018

ORANG YANG BERBAHAGIA
“Bersukacitalah dan bergembiralah sebab upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi sebelum kamu” (Matius 5:12).
                                                                               
                Di dunia ini banyak orang berusaha mencari kebahagiaan dengan berbagai usaha. Ada yang berpendapat, saya akan berbahagian jika memiliki banyak uang dan harta. Ada juga yang berpendapat, saya berbahagia jika sudah memiliki jabatan yang strategis dan karier yang mantap. Selain itu ada juga orang yang berpendapat bahwa kebahagiaan baginya adalah ketika ia telah memperoleh apa yang telah didambakannya selama ini atau ketika ia sukses dalam apa yang dicita-citakan. Ada juga orang yang mengatakan bahwa kebahagiaan dalam hidup ini adalah jika kita memiliki keturunan. Dari berbagai pendapat tersebut, apakah benar kebahagiaan yang sesungguhnya ditentukan oleh hal-hal materi atau hal-hal yang dapat menyenangkan tubuh ini?
                Pengajaran Yesus tentang kebahagiaan justru sangat berbeda dari konsep atau pemikiran manusia. Melalui pengajaran Yesus dalam khotbah di bukit, kita dapat melihat dan merenungkan siapa-siapakah yang disebutkan oleh Yesus sebagai orang-orang yang berbahagia. Dalam Matius 5:3-11 orang-orang yang berbahagia itu adalah: orang yang miskin di hadapan Allah, orang yang berdukacita, orang yang lemah lembut, orang lapar dan haus akan kebenaran, orang yang murah hatinya, orang yang suci hatinya, orang yang membawa damai, orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran. Secara khusus dalam nas hari ini kita melihat justru orang-orang yang dicela, difitnah dan dianiaya jutru merekalah yang bersukacita dan bergembira. Merekalah yang berbahagia bahkan upanya besar di sorga, artinya merekalah yang menikmati berkat-berkat rohani yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan.
                Dari daftar orang-orang yang berbahagia yang disebutkan oleh Yesus tentu sangat kontras dengan kaca mata manusia tentang orang-orang yang berbahagia, yaitu mereka yang memiliki uang, harta, jabatan/pangkat, popularitas dsb. Kriteria orang yang berbahagia menurut dunia itu tidak masuk dalam daftar yang disampaikan oleh Yesus. Mengapa orang-orang yang disebutkan Yesus itu justru berbahagia? Jika kita merenungkan pertanyaan tersebut kita melihat dengan mata iman kita bahwa mereka yang berbahagia itu adalah orang-orang yang mengantungkan hidupnya kepada Tuhan, seperti orang miskin dan orang-orang yang berdukacita. Juga mereka yang memiliki karakter seperti  yang  dimiliki olehTuhan, seperti: lemah-lembut, murah hati, suci hatinya, pembawa damai bahkan orang teraniaya karena kebenaran. Karena itu jika kita merindukan kebahagiaan yang sesungguhnya, marilah kita datang kepada Yesus dan erat bersekutu dengan Dia. Kebahagiaan yang sejati adalah ketika kita mengenal Yesus dan percaya kepada-Nya. Di luar itu kita hanya menikmati kebahagian palsu atau sementara saja. (RM).
DOA: Bapa yang baik, bimbinglah aku Tuhan untuk memperoleh kebahagiaan yang sesungghunya dalam Kristus. Amin.
Kata-kata Bijak:
Kebahagiaan yang sejati hanya ada dalam persekutuan dengan Kristus.


Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Kamis, 1 Peburari 2018


YESUS PAHLAWANKU
“Tuhan Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan, Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, ia membaharui engkau dalam kasihNya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan bersorak-sorai” (Zefania 3:17).
                Di Indonesia kita mengenal Hari Pahlawan yang jatuh pada setiap tanggal 10 November. Pada awalnya pencanangaan hari pahlawan itu adalah untuk memperingatii pertempuran di Surabaya yang terjadi pada tahun 1945, di mana para tentera dan milisi yang pro-kemerdekaan Indonesia berperang melawan Britani Raya dan Belanda yang merupakan bagian dari revolusi bangsa Indonesia. Pada waktu kemudian hari pahlawan itu kita kenang untuk para pahlawan yang gugur dalam medan perang dalam rangka  membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan.
                Dalam kehidupan bangsa Israel, Tuhan Allah dipercayai sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Pada masa pelayanan Nabi Zefania bangsa Israel dikenal sebagai bangsa yang benar-benar keterlaluan. Hati mereka sangat mudah berubah. Ketika berada dalam kesulitan atau dalam keadaan terjepit mereka meratap dan berseru kepada Tuhan memohon pertolongan, namun setelah menerima pertolongan-Nya mereka tetap saja tidak puas dan tidak mengucap syukur malah terus mengeluh dan bersungut-sungut. Oleh karena itu melalui nabi Zefanya Tuhan menegur mereka dengan keras “bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka Tuhan yang bernyala-nyala itu, sebelum datang kepadamu hari kemurkaan Tuhan (Zef. 2:1-2)”. Namun di balik rencana murka Allah itu Nabi Zefania menyambaikan berita kasih dan kemurahan Allah kepada umat-Nya. Tuhan  akan menghibur dan menguatkan bangsa itu. Salah satu firman yang disampaikan Nabi Zefania nas kita ini: “Tuhan Allah ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan.” Tuhan bertindak sebagai pahlawan untuk membebaskan mereka dari kuasa-kuasa yang tidak adil. Tindakan Tuhan yang memberi kemenangan itu menunjukkan kuasa-Nya yang memperbaharui umat-Nya. Itulah yang menjadi dasar bagi bangsa itu untuk bergirang dan bersorak-sorai.
                Dalam hidup kita sebagai orang percaya, kita juga mengaku bahwa Allah bertindak sebagai pahlawan bagi kita. Dia mengutus Anak-Nya Yesus Kristus, menderita dan mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Dengan memakai istilah pahlawan, Allah sendiri dalam Yesus Kristus adalah pahlawan kita yang telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih (bnd. Kol.1:13). Bukan hanya itu Ia juga telah membaharui dan memurnikan hidup kita melalui kasih-Nya. Oleh karena itu marilah kita terus berjuang untuk tidak melakukan dosa lagi. Dengan mengenal pengorbanan Tuhan sebagai pahlawan kita, maka hendaklah kita senantiasa bergirang dan selalu bersyukur kepada-Nya. (RM).
   
DOA: Bapa Sorgawi, biarlah aku senantiasa mengadalkan Engkau ketika aku dalam hidup menghadapii beban-beban berat. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
Kata-kata Bijak:
Yesus Pahlawan yang memberikan kemenangan bagi kita.



Untuk Arsip Bulan lalu silahkan hubungi Admin atau email ke: gkpiapostolat@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar