Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI
Dengan sukacita kami mengucapkan SELAMAT PASKAH bagi kita sekalian. Kiranya melalui Perayaan Paskah di tahun ini iman kita semakin dikuatkan terutama dalam melaksanakan tugas panggilan kita sebagai orang-orang percaya. Paskah tersebut mengingatkan kita akan pembebasan yang dilakukan oleh Tuhan bagi kita umat berdosa melalui kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa Dia Tuhan, dan Dia hidup. Sukacita kebangkitan itu menggerakkan kita untuk pergi sebagai saksi-saksi Kristus. Untuk itulah tema bulanan GKPI pada April 2018 ini sebagaimana diaturkan dalam Almanak GKPI adalah: “Menjadi Saksi Kristus Yang Setia” yang didasarkan pada terang nas Kisah Para Rasul 1:8: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini memperoleh semangat baru untuk menjadi Saksi Kristus yang setia. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan oleh saudara-saudara untuk mengunjungi blog ini. Tuhan memberkati.
(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Arsip Renungan Harian Terang Hidup GKPI





Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Rabu,  18 April 2018


NAMANYA JUGA USAHA
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat;
ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”  (Mat.7:7)

                Saat mengendarai sepeda motor, hujan turun sangat deras sehingga aku harus mencari tempat untuk menepi. Ketepatan, ada satu warung kecil dekat sepeda motorku melintas. Supaya tidak hanya sekadar menumpang, aku pun mencoba sekalian belanja di warung itu. Yang tengah menjaga warung itu ternyata seorang bapak muda. Dengan sigap, ia menawarkan belanjaan di warungnya. Aku bingung mau membelanjakan apa. Warung itu hanya toko kecil untuk keperluan-keperluan sehari-hari. Awalnya, bapak itu menawarkanku sebungkus rokok. Aku menolak karena bukan seorang perokok. Aku sebenarnya ingin menyantap makanan atau minuman hangat. Bapak itu kaget mengapa aku mencari makanan masak di warungnya, yang sudah jelas bukan rumah makan. Aku hanya bisa menjawab, “Namanya juga usaha, pak. Manatahu bisa. Kalau tidak bisa juga tidak apa-apa”. Tak disangka, bapak ini menawarkan dimasakkan mie instant dan diseduhkan minuman hangat. Aku menjawab, “Tapi warung ini khan bukan warung makan, pak? Kenapa bisa?”. Jawaban menggelitik kudapatkan dari bapak itu, “Iya, pak. Tapi ini khan rezeki, masak ditolak? Namanya juga usaha, pak!”. Aku pun menyetujui tawaran bapak itu. Baru kali itulah pengalaman hidupku makan dan minum di warung yang bukan warung makan.
                Nas kita hari ini merupakan bagian pengajaran Yesus pada para murid tentang bagaimana menemukan hikmat Tuhan serta menemukan jawab atas doa. Yesus meminta para murid tetap berusaha meminta hikmat dari Allah supaya dapat bijak menyikapi situasi kehidupan yang demikian berat. Yesus ingin memperkenalkan Allah adalah Bapa yang baik kepada anak-anak-Nya. Sehingga dalam iman kita berkeyakinan, apapun yang kita pinta pasti akan diberi oleh Allah Bapa seturut dengan keperluan kita dan bukan keinginan kita.Lalu, kita kemudian bertanya, “Bukankah Tuhan itu Mahatahu? Mengapa kita harus berdoa meminta?” Terkait dengan pertanyaan itu, kita lalu dibawa pada pemahaman lebih lanjut tentang bagaimana itu berdoa? Jelas bila kita datang meminta kepada Tuhan di dalam doa, maka di sana ada kesadaran akan kebutuhan ber-Tuhan.
                 Melalui nas ini kita diajarkan untuk berdoa dan berusaha meminta kepada Allah Bapa di Sorga. Yesus berkata: “Mintalah maka akan diberikan kepadamu”. Lalu, kita bertanya, “Di mana jawaban doa kita?” Tentu sebagai manusia kita dilengkapi dengan akal dan pikiran, kita akan terus bertanya dan bertanya sampai kita menemukan jawabnya. Makanya, Tuhan Yesus menjawab, “Carilah maka kamu akan mendapatkan”. Pencarian kita pun yang awalnya sangat optimis, lambat laun akan sampai pada satu misteri besar yang sulit untuk terpecahkan. Ibarat rumah misteri yang kita tak mengerti bagaimana isi di dalamnya. Makanya, Yesus kemudian memberikan ajakan, “Ketuklah, maka pintu akan dibukakan”. Jelaslah, kita berdoa, karena Allah menjawa doa kita.  (ThS).

DOA: Ya Tuhan, ajarlah kami untuk tetap berpengharapan kepada-Mu, sehingga, kami boleh tetap yakin meminta, mencari, dan mengetuk pintu keselamatan yang Kau sediakan bagi kami. Amin.
Kata-Kata Bijak:
Manusia yang terbatas tak pernah bisa membatasi jawaban doa Tuhan yang tak terbatas



Renungan Harian Terang Hidup GKPI,Selasa 17 April 2018


MEMINTA KEPADA TUHAN
“Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya.” (1.Sam.1:27).

                Seorang bapak menghampiriku dengan maksud berkeluh kesah tentang sakitnya. Ia bersaksi sudah bertahun-tahun membawa penyakitnya ini ke medis, bahkan sampai ke luar negeri. Tapi, tak ada satu pun diagnosa yang tepat untuk menyembuhkannya. Ia berkisah kalau sakitnya ini merupakan dampak dari dosa yang dilakukannya di masa lalu. Ia pernah memercayai jimat yang memberi kesaktian dan kekuatan pada tubuhnya. Sehingga, ketika bapak ini mencoba mendekatkan dirinya kepada Tuhan, jimat dalam tubuhnya bereaksi dan kemudian menyiksa dirinya. Parahnya lagi, perutnya sudah membengkak seperti ibu hamil. Terhadap pelayanan seperti ini, aku bergumul. Aku tidak pernah berhubungan dengan pelayanan okultisme. Tuhan memberikan jawaban-Nya kepadaku. Tiba-tiba, aku tergerak memintanya untuk menenangkan diri dan berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan. Bapak ini kaget karena ia minta didoakan tapi malah aku menyuruhnya berdoa sendiri. Aku kemudian menjelaskan, “Jika kita sendiri mau sembuh dari sakit kita, mengapa harus orang lain memintanya kepada Tuhan?” Tak lama, ia berdoa meminta kesembuhannya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Bahkan, ia mengucapkan nazarnya. Saat mengucapkan kata amin, mendadak bapak ini langsung tersungkur pingsang. Tiga hari kemudian, ia datang kembali kepadaku dan menunjukkan perutnya sudah kempes, serta penyakitnya sembuh total. Aku mengkonfirmasi bahwa kesembuhan itu datang dari Tuhan, sehingga ia harus membayar nazarnya kepada Tuhan.
                Pengalaman di atas tadi tidak jauh berbeda dengan topik nas kita saat ini yaitu permohonan sungguh-sungguh seorang ibu yang lama menantikan anak yang dilanjutkan dengan nazar kepada Tuhan. Hana nama ibu yang bergumul itu. Melalui perantara imam Eli, Tuhan mengabulkan doa dan nazar Hana. Tanpa ragu, anak pertama dari Hana dan Elkana yang diberi nama Samuel itu pun kemudian diserahkan kepada Tuhan. Anak itu diantar sendiri oleh Hana pada imam Eli, dan Hana berkata: “untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya.” (1.Sam.1:27). Jadi Hana benar-benar menenuhi nazarnya.
                Firman Tuhan pada hari ini mengajarkan kita untuk memiliki kesungguhan memohon kepada Tuhan dalam doa, serta belajar bagaimana mengajukan nazar yang benar di hadapan-Nya. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya bila kita memohon dengan sungguh. Bukan karena nazar maka permohonan kita dikabulkan Tuhan. Namun, nazar itu merupakan cara kita bersyukur atas pemberian-Nya yang sudah sangat kita nanti-nantikan itu. Nazar harus ditepati sekalipun sangat berat, seperti yang disaksikan oleh Hana. Jangan pernah bernazar kepada Tuhan bila tidak sanggup untuk memenuhinya. (ThS).

DOA: Ya Tuhan, ajarlah kami untuk tetap yakin bermohon di dalam situasi rumit sekalipun, karena kami yakin mukjizat-Mu nyata bagi kami umat percaya. Amin.

Kata-Kata Bijak:
“Nazar merupakan cara kita merespons kesungguhan permohonan kita
kepada Tuhan dalam rasa syukur.”



Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Senin, 16 April 2018


RINDU KESELAMATAN
“Aku rindu kepada keselamatan dari pada-Mu, ya TUHAN dan Taurat-Mu menjadi kesukaanku. Biarlah jiwaku hidup, supaya memuji-muji Engkau, dan biarlah
hukum-hukum-Mu menolong aku.”  (Mzm.119:174-175).

                Seorang dokter spesialis jantung pernah bercerita panjang lebar denganku tentang pengalamannya berurusan dengan pasien jantung. Ia menuturkan betapa susahnya memberikan pemahaman pada pasien yang memiliki pola hidup kurang sehat. Misalnya saja, ia pernah menolong seorang pria yang terkena serangan jantung ringan. Ketika medis berhasil menyelamatkan nyawanya dari serangan itu, dokter ini meminta pasiennya itu untuk memerhatikan pola hidupnya supaya diisi dengan kegiatan yang positif untuk tubuh. Dokter ini menyarankan agar ia rutin memakan makanan yang rendah lemak, berolahraga teratur bukan berat, memberhentikan kebiasaan merokok, tidak bergadang, dan lain sebagainya. Akan tetapi, pasien tidak sedikit yang meremehkan nasehat itu. Bahkan, ada pasien yang mengatakan bahwa hidup mati seorang manusia itu di tangan Tuhan, bukan di tangan dokter. Kekecewaan mendalam tentu dirasakan dokter spesialis jantung ini. Ia mencurahkan isi hatinya padaku bahwa memang benar hidup mati manusia itu di tangan Tuhan. Namun, dokter dan staf medis lainnya bukankah perantara Tuhan dalam menolong sesama yang menderita, termasuk berpenyakit jantung? Dokter pun disumpah dalam mengemban jabatan untuk berdedikasi dalam profesinya. Lantas, kalau ia diragukan dan disepelekan karena alasan keagamaan, ia saat dilantik bersumpah pada siapa? Dokter ini menutup curahan hatinya dengan satu penegasan, “Hidup dan mati manusia itu memang ditentukan oleh Tuhan, tetapi yang pasti, manusia diberi akal dan budi untuk menjaga tubuhnya sebagai pemberian Tuhan.”
                Dalam hubungan kita dengan Tuhan, melakukan perintah-Nya merupakan tanda bahwa kita rindu akan keselamatan. Kata kuncinya adalah rindu. Seperti pasien sakit jantung yang melakukan perintah dan aturan dokter, mereka menaatinya karena mereka rindu untuk kembali hidup sehat. Demikianlah, pemazmur yang mendengungkan kerinduannya dalam beroleh selamat. Ia memberikan tanda kerinduannya itu dengan melakukan Taurat dan hukum-Nya. Sekiranya ia dikasihani oleh Allah, maka ia beroleh selamat. Jiwanya pun kembali hidup untuk memuji Tuhan. Itu permohonan sederhana dari pemazmur. Demikian kita juga semua yang rindu akan keselamatan, marilah kita menunjukkannya itu dengan menaati perintah dan hukum-Nya. Sekalipun keselamatan adalah belas kasihan Tuhan semata, tetapi kita sudah memberi tanda kerinduan kita akan hal itu. Di samping itu, semua tindak ketaatan kita itu tidak lain bentuk dari kita memuji nama-Nya yang kudus. (ThS).

DOA: Ya Tuhan Allah, kuatkanlah kami dalam melakukan setiap perintah dan hukum-Mu. Biarlah kami rindu akan keselamatan yang Engkau sediakan itu.  Amin.

Kata-Kata Bijak:
“Melakukan hukum Tuhan sesungguhnya  merupakan indikasi kalau kita
merindukan keselamatan itu.”


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Minggu, 15 April 2018


PEMBERIAN ALLAH
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu,
 tetapi pemberian Allah.” (Ef.2:8)

                Bagi mereka yang memiliki latar belakang hukum, kata “grasi” tentu bukan hal yang sulit untuk dijelaskan. Secara sederhana, grasi diartikan sebagai pemberian dari Presiden dalam bentuk pengampunan yang berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksaaan putusan kepada terpidana. Di Indonesia, grasi merupakan hak prerogatif Presiden untuk memberikan ampunan. Sekalipun pemberian grasi dapat mengubah, meringankan, mengurangi, bahkan menghapus kewajiban menjalani pidana yang dijatukan pengadilan, tidak berarti menghilangkan kesalahan dan juga bukan merupakan rehabilitasi terhadap terpidana. Tata cara pengajuan grasi, terpidana sendiri langsung menyampaikan permohonan tersebut pada Presiden, di mana salinan permohonan disampaikan pada pengadilan untuk diteruskan pada Mahkamah Agung (MA). Presiden memberi atau menolak permohonan grasi setelah memerhatikan pertimbangan MA. Jika diperhatikan dengan saksama, si pemohon grasi atau terpidana memiliki peran yang besar dalam usaha meminta grasi dari Presiden.
                Namun, di dalam iman Kekristenan, kita tidak memiliki kuasa dalam upaya penghapusan hukuman kekal karena dosa pelanggaran kita. Baik itu meminta Tuhan agar memerhatikan hal-hal baik yang sudah kita lakukan, atau juga menunjukkan rasa menyesal kita dengan menangis sejadi-jadinya. Usaha itu tak akan memengaruhi keputusan Tuhan yang menjadi hakim atas dunia ini. Jikalau pengampunan itu diberikan, hal itu sepenuhnya karena belas kasihan Tuhan saja. Dalam surat kepada Jemaat Efesus, Paulus mengajarkan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu,  tetapi pemberian Allah.” (Ef.2:8). Inisiatif penyelamatan itu bukan karena manusia yang berupaya menemukan Tuhannya, tetapi Tuhanlah yang menemukan ciptaan-Nya. Semuanya itu hanya belas kasihan-Nya semata yang dianugerahkan oleh Allah secara cuma-cuma. Karenanya, hal yang penting kemudian diperhatikan adalah iman. Hanya dengan iman itu, kita kemudian mensyukuri keselamatan kita dan melakukan hal yang direncanakan Tuhan atas hidup kita sejak semula. Apakah itu? Pekerjaan baik, di mana kita hidup di dalamnya.
                Saudara, keselamatan yang Tuhan anugerahkan pada kita itu murni karena belas kasihan-Nya semata. Dengan menyadari hal tersebut, kita kemudian dapat mengingat kembali tujuan kita diciptakan-Nya di dunia ini. Sejak semula, kita (manusia) diciptakan Tuhan untuk tujuan pekerjaan baik, sebagaimana pekerjaan Tuhan adalah baik adanya. Kita kemudian sebagai citra Allah harus meneladani maksud baik pekerjaan Tuhan itu. Sehingga, orang lain dapat melihat citra positif Allah di dalam diri kita. (ThS).
DOA: Ya Tuhan, ajarlah kami untuk menyadari keselamatan yang engkau anugerahkan bagi kami. Ajarlah kami untuk melakukan hal-hal baik sebagai buah iman kami kepada-Mu. Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa dan bersyukur. Amin.
               
Kata-Kata Bijak:
“Semakin kita menyadari belas kasihan Tuhan, semakin kita mengerjakan keselamatan kita, yaitu perbuatan baik sebagai cerminan citra positif Allah.”


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Sabtu, 14 April 2018


INGIN MELIHAT ALLAH?
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”
(Matius 5:8).

                Saya pernah melayani di sebuah Gereja POUK (Persekutuan Oikumene Umat Kristen) di daerah pedalaman yang memproduksi banyak minyak. Waktu saya memulai pelayanan, ternyata perusahaan yang bergerak di pengeboran minyak itu tidak lagi beroperasi namun gereja itu tetap berdiri. Saya tinggal di pastori gereja yang ada di sekitar rumah-rumah besar dan megah namun sudah ditinggalkan oleh penghuninya. Keadaannya begitu seram dan menakutkan. Saya mengajak seorang anak kecil untuk tinggal bersama-sama dengan saya. Namun di luar dugaan, si anak bisa melihat sesuatu yang tak bisa saya lihat. Maka itu pulalah yang menjadikan saya semakin takut. Lalu saya bertanya kepada orangtuanya, apakah memang demikian? Lalu orangtuanya mengatakan kepada saya, “yah memang begitulah anak-anak nang, karena hatinya tulus, maka dia bisa melihat yang tidak kita lihat.” Sayapun terus penasaran dan hingga  menuliskan renungan ini saya masih terus penasaran apa benar seperti itu. Lalu jika kita menghubungkan dengan nas hari ini: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”,  bukankah itu sebagai sesuatu yang bertentangan? Sulit untuk menjawabnya. Namun yang pasti, pengajaran Yesus dalam nas ini adalah benar, orang yang suci hatinya akan melihat Allah.
                Nas kita ini mengingatkan kita bahwa orang yang suci hatinya akan melihat Allah. Ini adalah sepenggal khotbah Yesus di Bukit, yang menjadi ucapan bahagia. Namun jika kita perhatikan, sering kali ini menjadi sesuatu yang membingungkan, karena rasanya terbalik dengan apa yang terjadi di dunia ini. Berbahagialah yang miskin, berbahagialah yang berdukacita, berbahagialah yang lemah lembut, berbahagialah yang dihina dan dianiaya oleh sebab kebenaran. Yah, memang rasanya terbalik dengan dunia, sebab dunia mengatakan jika miskin tidak mungkin bersukacita, jika dianiaya tidak mungkin kuat. Yah, ini adalah kualitas iman seorang murid Yesus. Khusus nas kita, berbahagialah yang suci hatinya, maka dia akan melihat Allah. Suci hatinya adalah orang yang rendah hati dan mau mengerti kehendak Allah, tidak terlampau banyak berteka-teki akan apa yang terjadi dalam hidupnya. Orang seperti inilah yang percaya yang melihat segala sesuatu dari sudut Allah. Sebab dari sudut pandang Allah semuanya akan baik. Melihat Allah di sini bukan melihat secara kasat mata, namun bisa melihat perbuatan  atau karya Allah dengan iman.
                Saudara, melalui nas ini kita diingatkan, jika kita ingin melihat Allah dalam kehidupan kita, maka yang harus kita lakukan adalah menyucikan hati kita dan kita harus hidup dalam kekudusan. Sucikanlah hati, hiduplah dalam kekudusan, bersandarlah hanya kepada Allah dan berbuatlah kebaikan dan kebenaran. Maka Ia akan menunjukkan diri-Nya kepadamu dan menunjukkan jalan yang harus kau tempuh dalam hidupmu. Amen. (RM).

DOA: Yesus yang baik, Engkau telah menunjukkan jalan kebahagiaan kepada kami. Karena itu, kuatkan kami Tuhan untuk selalu hidup dalam kesucian dan kekudusan. Amin.

Kata-kata Bijak:
Kesucian dan kekudusan hati adalah jalan untuk mengakses bekat-berkat Allah.

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Jumat, 13 April 2018


TUHAN MENCUKUPKAN
“Lalu Ia berkata kepada mereka, ‘ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut’, akankah kamu kekurangan apa-apa?.” (Lukas 22:35).
               
                Pernah suatu ketika ada seorang pemuda yang hampir saja putus asa saat dia kelaparan di sebuah desa. Tidak ada yang mau memperdulikan. Lalu dia mencari sebuah ide, agar orang-orang bisa memperhatikannya. Dia mengambil sebuah batu, dan mencelupkannya ke dalam sebuah kaleng yang sudah dicucinya, dan dia berteriak-teriak: “Halo, wahai kampung ini, saya akan membuat sop dari batu ini. Lihatlah, kalian akan melihat mujizat.” Lalu orang-orang yang tadinya tidak memperhatikannya mencoba melihatnya dengan penasaran. Apa yang akan dilakukan pria itu dengan sop batunya. Lalu dia memulai memasaknya yang dimulai dari air saja. Setelah mulai mendidih dia  mulai mencicipinya: “ hmm...rasanya kurang garam.“  “Oh...di rumah ada garam!”, kata  seorang nenek berlari mengambil garamnya. Setelah itu si pemuda berkata:  “Hmm...rasanya enak jika sepotong saja daging dimasukkan di sini.” Dengan penasaran seorang bapak berlari dan mengambil daging dari rumahnya dan memberikannya kepada pemuda itu.  “Hmm...kurang daun sop dan bawang prenya.”, kata si pemuda.  “Ini dia!”, kata  seorang ibu yang lain, lalu memberikannya. Akhirnya jadilah sop batu yang lengkap dan enak, lalu dia menikmatinya sampai kenyang. Ilustrasi ini memunjukkan sebuah jalan keluar ketika seorang pemuda yang lapar di tengah-tengah perjalanannya. Dia tidak membawa perbekalan  apa-apa, tetapi dia bisa makan berkat bantuan orang-orang desa tersebut.
                Para murid-murid yang memberitakan Injil pada zaman Yesus pasti menghadapi kesulitan dalam misi penginjilan, khususnya tentang kebutuhan hidup.  Lalu Yesus  berkata kepada mereka, ‘ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut’, akankah kamu kekurangan apa-apa?” Sebenarnya lebih dari pada itu, Yesus mengingatkan para murid  agar tidak kawatir akan apapun juga dan tidak menjadi takut akan kebutuhan sehari-hari mereka. Nasehat ini disampaikan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya sebelum Dia diserahkan kepada orang-rang Yahudi untuk dihakimi.  Yesus menasehatkan kepada mereka, tidak perlu kuatir akan kebutuhan hidup mereka di tengah-tengah pekabaran Injil mereka. Para murid harus percaya selalu akan penyertaan Allah. 
                Saudara, hari ini kita juga diingatkan akan besar kasih Tuhan dalam hidup kita. Sama seperti murid-murid Yesus, terkadang kita takut akan hidup kita ini ketika nanti pergi untuk melayani Tuhan dengan setulus hati. Namun Firman kali ini mangatakan kepada kita jangan takut. Jika pun Yesus mengutus murid-Nya tanpa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah mereka kekurangan? Murid-murid menjawab “tidak” maka kita pun seharusnya berani menjawab demikian. Allah akan selalu mencukupkan dan memperlengkapi  kebutuhan kita dalam melaksanakan tugas panggilan kita. (RM).

DOA: Bapa Sorgawi, Engkau sungguh memelihara kehidupan kami. Karena itu, kuatkan kami Tuhan untuk selalu percaya akan pemeliharaan-Mu dalam hidup kami. Amin.

Kata-kata Bijak:
Tuhan pasti memelihara hidup hamba-hamba-Nya dalam pelayanan.

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Kamis, 12 April 2018


BERJALAN  BERSAMA TUHAN
“Serta berkata: jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapanMu ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami.” (Keluaran 34: 9a).

                Pernah terjadi pertengkaran hebat di antara seorang ayah dan anaknya. Si ayah membenci tingkah anaknya yang selalu membangkang jika diberikan pandangan atau nasehat. Memang dengan jiwa muda seorang anak laki-laki sangat sulit untuk menerima masukan walaupun dari orangtua sekalipun apalagi jika pandangan itu berupa nasehat, maka jiwa mudanya akan terasa diinjak-injak. Nampaknya dia merasa sudah dewasa dan mandiri. Di satu hari, anak tersebut berkelahi dengan teman sebayanya di kampung dan nampaknya terjadi pergulatan yang cukup sengit sebab sama-sama memiliki jiwa muda. Memang saat itu, anaknyalah yang kalah dan sampai lemas ditertawai oleh teman-temannya. Lalu teman-temannya mengejek dia bahkan mengatakan bahwa dia tidak diperdulikan oleh ayahnya. Lalu dari kejauhan si ayah mendekat dan mengatakan, siapa yang mengatakan dia tidak diperdulikan oleh ayahnya, aku ayahnya, aku sangat sayang padanya. Maka segeralah berdamai, karena aku sangat sayang padanya. Ilustrasi itu menggambarkan hati seorang ayah yang mau berbalik mengasihi anaknya walau anaknya sangat tidak memperdulikan nasehatnya.
                Bangsa yang dikasihi oleh Allah adalah bangsa pilihan, yang berbeda dari bangsa-bangsa yang lain. Namun ketidaksetiaan mereka kepada Allah pada awalnya membuat Allah berduka dan menutup telinganya kepada erangan dan jeritan mereka. Manusia  kadang-kadang membuat pemisahan yang membuat Allah menutup mata-Nya kepada bangsa-Nya itu. Sudah disayangi, tapi malah membenci dengan membuat persaingan akan penyembahan mereka dengan membuat patung Baal. Namun walaupun demikian Allah itu Allah yang tiada duanya selalu memantau bangsanya lewat para Nabi-Nya yang mengarahkan bangsa itu supaya tidak berlarut-larut di dalam pemberontakannya kepada Allah. Melalui Nabi Musa sebagaimana dalam nas kita hari ini, Allah memberikan dua loh batu yang baru, agar bangsa itu tidak melenceng dari jalan yang sudah ditentukan oleh Allah bagi bangsa-Nya. Itu adalah tanda-Nya bahwa Allah mau berjalan bersama-sama dengan bangsa-Nya. Allah bangsa Israel adalah Allah yang mahabaik dan panjang kasih setia. Dalam teks ini Musa terus memberikan permohonannya agar Allah tetap mau berjalan di tengah-tengah bangsa itu.
Firman ini sungguh-sungguh menguatkan kita. Kita adalah bangsa yang persis sama dengan bangsa pilihan itu. Kita juga sering meninggalkan Tuhan dan tidak peduli dengan peringatan-peringatan Tuhan. Tetapi sekalipun kesalahan dan kekurangan kita begitu besar, Tuhan mau memberikan kasih karunia-Nya bagi kita dan Dia tetap mau berjalan bersama-sama dengan kita. Inilah anugerah Allah yang besar. Karena itu saat ini dalam perjalanan hidup kita, Tuhan mau selalu bersama-sama dengan kita. (RM).

DOA:  Bapa Sorgawi, terima kasih atas kasih karunia-Mu dalam hidup kami. Tolong kami Tuhan untuk selalu percaya akan tuntunan-Mu dalam hidup kami. Amin.

Kata-kata Bijak:
“Ketika kita berdosa, kasih-kanuria Allah begitu besar bagi kita.”


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Rabu, 11 April 2018


SEPERTI BAYI YANG BARU LAHIR
“Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin air susu
 yang murni  dan yang rohani.” (1 Petrus 2:2a).

                Untuk menjadi sehat seorang bayi sangat membutuhkan air susu ibu (ASI)  yang murni, yang alamiah. Karena itu seorang bayi untuk dapat bertumbuh dengan sehat dan juga agar perkembangannya normal, mengkonsumsi ASI harulah menjadi yang utama. Selain itu pemberian ASI akan meningkatkan ikatan emosional anak dan ibu yang dijalin begitu erat, dan juga membangun kontak batin seorang anak dengan ibu. Kesehatan mental, jasmani dan intelektualnya katanya lebih optimal jika si anak terus mengkonsumsi ASI jika dibandingkan dengan mengkonsumsi susu formula. Bagaimanapun ini sangat masuk di akal karena air susu ibu yang murni adalah tanpa zat pengawet dan zat kimia seperti susu formula. Si anak juga akan selalu mencari air susu ibunya ketika sudah diberikan sejak awal, pun jika sudah terlanjur diberi susu formula. Kerinduannya selalu ada terus menerus untuk mengkonsumsi air susu ibu (yang murni).
                Dalam pertumbuhan rohani, umat percaya juga membutuhkan air susu yang murni dan yang rohani. Dalam teks kita 1 Petrus 2:2a ini kita benar-benar ditegur untuk mengerti bagaimana seorang anak bayi yang begitu membutuhkan air susu yang murni dan merindukan dekapan ibunya. Adapun penjelasannya adalah bahwa umat Tuhan harus selalu merindukan dan menginginkan Firman Tuhan yang murni dalam hidupnya. Dalam konteks perikop kita ini sebenarnya Petrus sedang meneguhkan umat pendatang yang setia dan yang terpilih untuk tetap setia  bergantung Tuhan melalui Firman-Nya, agar damai sejahtera dan kasih karunia-Nya selalu melimpah bagi mereka. Hal itu juga mengingatkan jemaat pada waktu itu akan pentingnya hubungan yang erat dengan Tuhan. Agar mereka bisa bertahan dalam keadaan apapun dan tidak goyah walau banyak tantangan maka mereka harus berpegang kepada Firman Tuhan yang murni.
                Saudara dalam hidup ini kita juga sedang ditegur untuk boleh bergantung dengan sepenuh hati kepada si pemberi hidup kepada kita. Ketergantungan dan keterikatan itu diibaratkan seperti seorang bayi yang menginginkan susu yang murni dan tulen. Itu semua demi perkembangannya. Hal yang sama, dalam rangka pertumbuhan rohani kita sebagai orang-orang percaya, kita harus mengkonsumsi Firman Tuhan yang sungguh-sungguh murni dari Alkitab. Memang kita sadari bahwa dalam pertumbuhan rohani kita terkadang kita membaca buku-buku rohani atau renungan yang sudah dikemas sedemikian oleh orang lain. Itu memang baik. Tetapi yang lebih baik adalah ketika kita selalu berusaha untuk disiplin membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Tanpa Firman itu tidak akan ada kekuatan kita untuk bertumbuh. Kedewasaan rohani semata-mata tergantung kepada Firman Tuhan yang kita renungkan siang dan malam. (RM).

DOA: Bapa Sorgawi, terima kasih Tuhan atas keselamatan yang Engkau anugerahkan kepada kami. Kini, kami butuh pertumbuhan rohani yang sehat. Karena itu kuatkan kami Tuhan untuk selalu bergantung kepada Firman-Mu. Amin.

Kata-kata Bijak:
Tanpa Firman Tuhan tidak ada pertumbuhan rohani.


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Selasa, 10 April 2018


SUKACITA DARI TUHAN
“Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan.” (Yesaya 55:12)

Beberapa tahun yang lalu saya membaca sebuah kisah tentang seorang wanita kristiani berusia 92 tahun yang buta. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, ia selalu berpakaian rapi. Rambutnya selalu tersisir rapi dan ia berdandan dengan sangat cantik. Setiap pagi ia menyambut hari yang baru dengan penuh semangat. Setelah suaminya meninggal pada usia 70 tahun, wanita itu merasakan perlunya pindah ke panti jompo supaya mendapatkan perawatan yang layak. Pada hari kepindahannya itu, seorang tetangga yang baik hati mengantarkannya ke panti jompo dan menuntunnya menuju ruang tunggu. Karena kamarnya belum disiapkan, maka ia menunggu di ruang tunggu dengan sabar selama beberapa jam. Ketika akhirnya seorang petugas datang menjemputnya, ia tersenyum manis sembari mengarahkan alat bantu jalannya menuju lift. Petugas itu menggambarkan keadaan kamarnya kepadanya, termasuk gorden-gorden baru yang dipasang di jendela kamarnya. “Saya menyukainya,” sahut wanita buta itu. “Tapi Bu Jones, Anda kan belum melihat kamar Anda,” sahut petugas itu. “Hal itu tidak ada pengaruhnya bagi saya,” timpalnya. “Kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Entah saya menyukai kamar saya atau tidak, hal itu tidak tergantung pada bagaimana penataan kamar saya. Itu tergantung pada bagaimana saya menata pikiran saya.”
Kebutaan juga terjadi ditengah-tengah umat pilihan Tuhan ketika itu. Kebutaan di sini bukanlah kebutaan jasmani namun secara rohani. Akibat dosa, akhirnya mereka harus mengungsi ke negeri orang sebagai budak. Di tengah-tengah ketidakberdayaan bangsa itu, Allah melalui Yesaya hadir menunjukkan kasih setia-Nya kepada umat pilihan-Nya itu. Yesaya memberikan penghiburan dan jaminan dari Allah bahwa mereka akan di bebaskan dari perbudakan itu. Dan bukan hanya membebaskan mereka dari perbudakan Babel tetapi mereka akan diberangkatkan Tuhan dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai sejahtera ke tempat tujuan yang sudah Tuhan tentukan; melihat tindakan yang agung dari Tuhan itu, maka gunung-gunung serta bukit-bukit turut serta bergembira bersorak-sorai di depan mereka, dan segala pohon-pohonan dipadang akan bertepuk tangan.
                Adalah hal yang biasa bila kita bersukacita ketika kita senang, bahagia, dapat hadiah, apa yang kita inginkan terpenuhii, dll. Namun apakah saat ini kita sudah mampu bersukacita meskipun ada banyak tantangan dan pergumulan yang kita hadapi? Karena apa kita bersukacita? Pertanyaan-pertanyaan menjadi perenungan pribadi dalam hidup kita. Yang pasti, kita harus tetap bersukacita karena Tuhan kekuatan kita, Dia adalah pembebas kita dari segala macam pergumukan. (JS).

DOA: Ya Tuhan, kuatkanlah kami agar kami mampu terus bersukacita oleh anugerah-Mu. Amin.
Kata-kata Bijak:
Sukacita datang dari Tuhan yang hidup dalam diri kita
bukan dari sesuatu yang terjadi di sekitar kita


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Senin, 9 April 2018


MERENDAHKAN DIRI
“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”
(Yakobus 4:10).

Dalam sebuah acara atau perayaan-perayaan sering kita melihat panitia mempersiapkan kursi-kursi VIP (Very Important Person) yang ditempatkan di bagian depan gedung. Kursi-kursi ini diperuntukkan untuk tamu-tamu terhormat atau undangan-undangan khusus. Ketika para jemaat dan undangan berdatangan, sering terjadi ada-ada saja anggota jemaat yang langsung duduk di kursi yang diperuntukkan untuk tamu VIP, padahal kursii tersebut tidak diperuntukkan baginya. Di saat undangan yang terhormat datang, maka protokol atau panitia meminta para anggota jemaat itu untuk pindah dikursi jemaat, sehingga dia merasa malu kepada khalayak ramai. Sebaliknya ada juga undangan VIP ketika ia datang ke acara itu langsung duduk dibelakang, padahal kursi untuk dia sebagai tamu yang terhormat telah disediakan secara khusus. Lalu protokol melihat dia duduk di belakang, maka dia diundang dengan hormat untuk duduk di depan di kursi VIP, betapa dia sungguh terhormat.
Alkitab menuliskan ada banyak kisah yang menunjukkan bahwa Allah membenci orang yang congkak dan mengasihi orang yang rendah hati. Salah satunya adalah nas kita pada saat ini bagaimana Yakobus mengingatkan kepada jemaat pada saat itu akan perintah Allah supaya mereka hidup berkemenangan. Hidup berkemenangan adalah hidup tunduk kepada Allah (lih. ay.7). Untuk dapat menundukkan diri pada Tuhan diperlukan kerendahan hati karena Tuhan mengajarkan jalan-Nya hanya kepada orang-orang yang rendah hati (lih. Mzm.25:9). Yakobus disini menyerukan kepada jemaat untuk merendahkan hati mereka kepada Tuhan, dikarenakan ada sebahagian kelompok-kelompok yang sombong dan congkak karena memiliki hikmat dari bumi yang menaruh perhatian pada perkara-perkara duniawi, seperti kekayaan, kekuasaan dan nama baik. Bahkan kelompok-kelompok inii berusaha mencari kepentingan sendiri dan tidak peduli dengan yang lain. Seruan Yakobus ini sangat penting mengingat kesombongan dan kecongkakan kelompok-kelompok itu mengakibatkan terjadinya sengketa dan pertengkaran ditengah-tengah jemaat itu (lih.ay.1).
Di zaman ini ada banyak orang yang sering menyombongkan dirinya dengan apa yang ia punya baik itu jabatan, kekayaan, pendidikan, nama baik, dll. Bahkan bukan hanya itu, terkadang kita juga sering tinggi hati ketika menghadapi persoalan ataupun ketika kita berdoa. Tidak jarang kita mengandalkan diri sendiri, tidak jarang kita menuntut dan merasa diri benar dihadapan Tuhan. Melalui renungan ini, kita diingatkan untuk hidup rendah hati kepada sesama terlebih dihadapan Tuhan. Di hadapan Tuhan tidak ada yg lebih tinggi, tidak ada yang lebih terhormat, karena Allah adalah Allah yang lebih tinggi dan terhormat. Mari kita hidup rendah hati dengan meneladani Yesus sang Juru Selamat kita, sebab Tuhan sangat berkenan kepada orang-orang yang rendah hati, sebaliknya Ia membenci orang-orang yang tinggi hati. (JS).

DOA: Bapa Sorgawi, tuntunlah kami setiap umat-Mu ini untuk tetap merendahkan diri dihadapan-Mu. Amin.
Kata-kata Bijak:
Tanpa kerendahan hati, Tuhan takkan meninggikan seseorang


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Minggu, 8 April 2018


AKU TIDAK TAKUT, KARENA TUHAN BESERTAKU
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku;” (Mazmur 23:4a)

Aku duduk terdiam untuk sesaat ungkap seorang penumpang kapal pada tahun 1995, diam melihat kepanikan para penumpang yang tengah berada di dalam kapal perjalanan dari Tanjung Leidong menuju tanjung Balai. Malam gelap membuat suasana semakin mencekam, ombak besar membanting kapal, tangisan juga semakin terdengar, ada sebahagian mencari pelampung. Untuk apa pelampung, teriak yang lain, bukankah kita berada di tengah laut bebas, tidak ada kapal yang mendekat, sementara itu air sudah mulai memasuki kapal. Kapal semakin goyang dan kemiringan kapal sudah terasa. Ada seorang bapak yang justru memeluk seekor anjing, ada yang memegang tasnya erat-erat, ada yang hanya menangis. Suasana hiruk pikuk terjadi. Kemanakah kita melangkah saat seperti itu? Siapakah yang akan menolong? Dari mana datangnya pertolongan? Kapten kapal berusaha mengemudikan kapal semaksimal mungkin, mencari pertolongan kepada kapal yang lain, sementara petugas yang lain memperbaiki kebocoran kapal. Pertolongan datang dari yang tidak mereka duga. Ada kapal yang lewat, namun saat itu sangat sulit untuk memindahkan para penumpang ke kapal yang lain karena ombak yang begitu besar. Kapten kapal bertanggungjawab dengan kapal yang dikemudikan.
Ketenangan, kedamaian merupakan impian, harapan setiap orang, namun tidak setiap saat itu bisa digapai. Kadang ada ketenangan dan kedamaian, kadang musim panen kadang musim gagal, kadang terik matahari kadang musim hujan. Gelombang membuat hidup kita menyadari ternyata ada yang melebihi kekuatan kita, ternyata ada Allah yang senantiasa menyertai dan menolong kita. Mazmur 23 ini merupakan nyanyian Daud yang mengungkapkan bahwa Tuhan adalah sang gembala yang baik. Ketika pe-Mazmur berbicara tentang Tuhan sebagai gembala, ia berpikir tentang Tuhan sebagai pelindungnya. Bagi domba, gembala adalah segala-galanya. Tidak ada yang lain yang diinginkan domba selain daripada gembala. Sama seperti seorang bapak memenuhi kebutuhan anaknya, begitulah seorang gembala mencukupkan segala sesuatu yang diperlukan dombanya. Karena Tuhan adalah gembala bagi Daud, maka ia tidak takut.
Mengikut Yesus bukan berarti tidak ada gelombang badai yang mengganggu, menghantam perjalanan orang percaya. Akan selalu ada tantangan dan rintangan, godaan dan cobaan. Ketika badai gelombang menghempas kita kemanakah kita melangkah? Daud mengingatkan kita ada Gembala yang baik yang akan selalu menyertai kita sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman. Seberat apapun masalah yang kita hadapi, hanya Tuhanlah sang Nahkoda yang menolong dan  menuntun kita,  dan  hanya Dia sajalah pembebas dan gembala kita. (JS).

DOA: Terpujilah Engkau Tuhan yang menjadi Gembala kami, yang senantiasa ada dan selalu aktif bekerja menyertai kami. Amin.

Kata-kata Bijak:
Setiap hari kita harus berkata Tuhan adalah Gembalaku, aku tidak takut bahaya,
 sebab engkau besertaku.”


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Minggu, 7 April 2018


YESUS YANG BANGKIT
“Ingatlah ini : Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati,” (2 Timotius 2:8a)

Siapakah Tuhan di dalam hidup kita? Dengan pasti setiap orang Kristen memberi jawaban bahwa Tuhan di dalam hidupnya adalah Yesus Kristus Sang Juruselamat. Jawaban ini secara iman dan teologis sangat benar, namun apakah jawaban ini benar secara praktis. Benarkah di dalam praktek kehidupan sehari-hari Yesus adalah Tuhan kita? Jawaban-jawaban inilah yang mau diterangi oleh nas kita hari ini, dimana mengaku kepada Yesus sebagai Tuhan, bukan hanya sekedar pengakuan semata, melainkan merupakan wujud iman dan buah dari pengimplementasian dari kehidupan kita sehari-hari. Mengaku Yesus sebagai Tuhan berarti kita siap untuk menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya bahkan siap menderita demi Dia.
Nas kita saat ini merupakan nasihat Rasul Paulus kepada Timotius anak rohaninya agar Timotius ikut menderita demi Kristus sebagaimana Paulus yang menderita demi Kristus. Karena pemberitaan Injil yang diberitakan, Paulus telah mengalami banyak penderitaan. Namun dengan anugerah dan kekuatan Allah, ia sabar menanggung semua penderitaan itu. Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati itulah yang menjadi dasar yang harus diingat ketika memberitakan Injil (1 Kor. 15:14). Kebangkitan Yesus dari antara orang mati adalah awal dari kehidupan manusia menuju ke kehidupan yang kekal, menuju kehidupan yang baru bersama dengan Allah. Kebangkitan Yesus dari antara orang mati adalah buah sulung karya penyelamatan Allah untuk dunia ini. Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus adalah bukti cinta kasih Allah akan dunia ini, bukti bahwa Allah tidak mau melihat dunia dan seluruh isinya binasa, melainkan supaya memperoleh kehidupan yang bahagia.
Tuhan menyediakan banyak berkat bagi orang-orang yang melakukan Firman-Nya, bersama dengan Tuhan, masalah besar dapat menjadi kecil, bahkan bisa tuntas hingga ke akar-akarnya. Itu adalah bentuk penyertaan Tuhan dalam membangkitkan umat manusia dari kehidupan fana ke kehidupan yang abadi. Kita diingatkan untuk tidak takut menghadapi penderitaan karena Kristus telah mati dan bangkit. Karena itu seberapa besar penderitaan dan pergumulan kita saat ini, janganlah kecut dan tawar hati sebab kita percaya dengan kebangkitan Kristus kita senantiasa yakin dan percaya bahwa Dia hidup. Jika Tuhan kita Yesus Kristus adalah hidup, kita percaya bahwa Dia akan membimbing kita keluar dari pergumulan apapun. Jadilah kuat dan ikutlah menjadi bagian dalam penderitaan karena pemberitaan Injil-Nya. Penderitaan yang kita alami karena nama-Nya tidak akan sia-sia. Tuhan menjamin dengan kesetiaan-Nya, Ia akan menyertai kita.(JS).

DOA: Ya Yesus, terima kasih buat pengorbanan-Mu yang begitu besar kepada kami. Engkau mau menderita demi menanggung dosa-dosa kami. Perlengkapi dan mampukan kami agar kami juga mau menderita demi nama-Mu. Amin.

Kata-kata Bijak:
“Bagi seorang pengikut Yesus sebuah penderitaan itu barulah dapat dikatakan berharga bila apa yang menyebabkan mereka harus menderita itu bersifat kekal”.



Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Minggu, 6 April 2018


BERPENGHARAPAN  HANYA KEPADA ALLAH
“Aku menaruh pengharapan kepada Allah, sama seperti mereka juga, bahwa akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun
orang-orang yang tidak benar.” (Kis. 24:15).

Jika sebuah keluarga mempunyai hanya seorang anak, anak tersebut pasti disebut anak tunggal, bukan anak sulung. Mengapa ia tidak disebut anak sulung padahal dia lahir sebagai anak pertama? Jawabnya karena tidak ada anak yang lahir setelah dia, sehingga meskipun dia anak pertama tetapi tidak disebut anak sulung. Artinya seseorang disebut anak sulung jika dia masih mempunyai adik atau beberapa adik. Sulung artinya yang pertama, dan pasti ada ada yang berikutnya.
Inilah juga yang dimaksud dalam nas kita saat ini. Dihadapan Feliks, Paulus mengatakan bahwa ia menaruh pengharapan kepada Allah, bahwa akan ada kebangkitan semua orang mati. Yesus Kristus adalah “yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati.”  Kita percaya dan tidak ragu bahwa Yesus bangkit dari kematian. Jikalau Yesus Kristus adalah yang sulung, berarti itu adalah jaminan kebangkitan orang-orang percaya. Meskipun kita tidak mengetahui waktunya dan bahwa waktu itu belum tiba, namun kebangkitan kita adalah merupakan suatu kepastian. Jadi pernyataan ini merupakan pengharapan kita bahwa akhir hidup bukanlah di dunia ini; akhir hidup kita juga bukanlah kematian. Kita pasti akan dibangkitkan sebagaimana Yesus dibangkitkan oleh Allah Bapa. Yesus adalah yang sulung dan kitalah yang akan menjadi pengikutnya. Paulus mengingatkan supaya kita menaruh pengharapan penuh hanya kepada Allah, yang telah membangkitkan Yesus Kistus, sekaligus awal dari kebangkitan setiap orang yang percaya dan berpengharapan pada-Nya. Karena itu, yang pertama dan terutama adalah menyadari dan mengimani bahwa Allah selalu berkarya kini dan di sini, saat ini dan sampaii waktu yang ditentukan-Nya. Hanya dengan kesadaran dan iman yang berpengharapan pada Yesus Kristuslah yang membuat kita mampu dan kuat menghadapi semua kenyataan hidup ini.
Saudara, jika kita berpengharapan secara total kepada Allah, kita tidak akan sia-sia dan tidak akan dikecewakan (bnd. Rm.5:5). Orang yang berpengharapan kepada Tuhan, berarti bersedia diatur dan dimbimbing oleh Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang direncanakan, dilakukan, dikatakan tidaklah berdasarkan selera pribadi. Aku-nya tidak lagi yang memegang kontrol; ego manusia tidak lagi menjadi tuan yang harus didengar dan dituruti.  Sebaliknya orang-orang yang berpengharapan kepada Allah, tentunya  dia sepenuhnya akan menjalani hidup optimis di tengah-tengah banyak tantangan dan hambatan. Temasuk tentang hidup setelah kematian, dia yakin dan percaya bahwa kebangkitan Yesus sebagai yang sulung telah memberikan harapan akan kebangkitan orang mati. Inilah yang membuat kita tidak takut menghadapi kematian. (JS)

DOA: Ya Tuhan, jangan biarkan umat-Mu dikuasai daging dan ego kami tetapi biarlah kami senantiasa berpengharapan hanya kepada-Mu dengan hidup mau diatur oleh Tuhan dalam kehidupan kami sehari-hari. Amin.

Kata-kata Bijak:
“Dan pengharapan itu tidak mengecewakan.”


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Minggu, 5 April 2018


BERSAMA DENGAN TUHAN
“dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga.” (Efesus 2:6)

Dalam hari-hari hidup kita sebagai orang percaya pasti banyak hal yang ingin kita lakukan, baik itu hal-hal yang menyangkut keinginan hati untuk memiliki sesuatu atau kerinduan hati akan suatu hal yang ingin kita capai. Semuanya itu akan kita kejar dengan kerja keras, bahkan terkadang harus bekerja siang dan malam untuk bisa mencapai keinginan atau kerinduan hati tersebut. Pertanyaannya sekarang, apakah hal-hal yang kita inginkan itu memiliki dampak kekekalan? Atau kalau sudah dicapai, lalu untuk apa semuanya itu? Pertanyaan ini harus kita jawab dengan jujur secara pribadi lepas pribadi, sebab tanpa kita sadari ada begitu banyak kerinduan hati kita yang tidak berdampak apa-apa kepada kehidupan kekal.
Sebagai orang percaya kita harus memiliki kerinduan yang berbeda dengan orang-orang dunia pada umumnya. Sebab kerinduan orang percaya yang benar sudah bukan lagi tertuju kepada perkara-perkara dunia yang fana tetapi kepada kehidupan yang kekal bersama-sama dengan Dia di sorga. Paulus dalam nas ini mengingatkan kepada jemaat di Efesus tentang sesuatu hal yang sangat penting bahwa semua jemaat memiliki kesempatan untuk bersama-sama dengan Yesus di sorga. Dan itu boleh terjadi dikarenakan hanya karena kasih karunia dari Allah semata. Alkitab mengajarkan bahwa kita sudah dipersatukan dengan Tuhan Yesus Kristus, bukan hanya dalam kematian-Nya (Rm. 6), tetapi juga di dalam kebangkitan-Nya dan dalam kenaikan-Nya ke surga untuk duduk di sebelah kanan Bapa. Kata tempat (duduk) termasuk salah satu kata yang hebat di dalam surat ini, yang menunjukkan kedudukan kita di dalam Kristus, sebagai orang-orang yang ikut ambil bagian dalam penebusan yang telah dilaksanakan dan diselesaikan serta orang-orang yang ikut mengalami kemenangan-Nya.
Sebagai Murid Kristus, apa yang telah dianugerahkan kepada kita, sungguh luar biasa dan sekarang ini telah kita peroleh, yaitu kehidupan, kebangkitan dan bahkan tempat di sorga bersama Yesus Kristus. Menyadari akan anugerah ini, membuat kita akan enggan melakukan kehidupan manusia lama kita, karena kita beroleh berkat yang luar biasa. Tetapi janganlah berkat ini menjadikan kita lupa diri dan hanya menikmati status ini tanpa berbuat apapun, karena sebagaimana Yesus Kristus ingatkan dalam Mat 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Melakukan kehendak Allah adalah kata kerja, yang senantiasa diaminkan Rasul Paulus dalam kehidupannya, demikian juga kita sebagai murid Tuhan Yesus.(JS).

 DOA: Ya Tuhan, kuatkanlah fondasi iman kami, agar kami kuat melawan godaan dunia ini. Mampukan kami agar boleh senantiasa menyadari status kami sebagai manusia baru serta boleh hidup setia hanya kepadaMu. Amin.

Kata-kata Bijak:
Apa yang kita peroleh di surga akan jauh lebih berharga
daripada apa yang kita peroleh di bumi
.”


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Minggu, 4 April 2018


HIDUP WALAUPUN SUDAH MATI
“…barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”
(Yohanes 11:25b)


                Seorang pengusaha bernama Krupp mendirikan sebuah pabrik senjata di negeri Jerman. Ia menerima banyak uang dari pembuatan senjata tersebut dan menjadikan dia kaya raya. Sekalipun dia  menjadi seorang yang begitu pintar dalam pembuatan senjata, ternyata dia sangat takut kepada kematian. Ia takut mati. Sehingga ia melarang orang-orang sekitarnya mengucapkan kata “kematian.” Suatu hari isterinya memberitahukan kepadanya bahwa keponakannya baru meninggal dunia. Krupp sangat terkejut dan dia  menjadi naik pitam kepada isterinya. Dia berkata: “Kenapa engkau memberitahukan itu kepadaku, bukankan kau telah mengetahui bahwa aku membenci kematian? Saking marahnya Krupp akhirnya menceraikan isterinya.  Memang benar, Krupp sangat membenci hal yang berkaitan dengan “kematian” sebab ia takut untuk mati. Tetapi mau tidak mau ia harus menghadapi kematian itu pada waktunya.
                Ketika Yesus berkata kepada Marta bahwa Dia  adalah kebangkitan dan hidup, hal itu menunjukkan bahwa Yesus bukan sekedar guru yang mengajarkan perkara kebangkitan, tetapi Yesus adalah kebangkitan itu sendiri. Yesus berkata: Akulah yang membangkitkan orang mati dan yang memberi hidup. Bentuk ungkapan keilahian "Aku adalah” (I am) menunjukkan bahwa Dialah Sang Hidup yang berhakekat mengalahkan kematian, dan memberikan kehidupan. Yesus tidak mengenal kematian kekal.Orang yang percaya akan hidup, meskipun ia sudah mati. Bila Tuhan Yesus itu Sang Hidup, Ia bukan saja hidup dalam dan untuk diri-Nya, tetapi juga memberi hidup kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Hidup itu sendiri pada hakikatnya adalah hidup Allah sendiri yaitu kualitas yang dimiliki oleh Allah sendiri, yaitu kehidupan yang kekal. Sebaliknya, mereka yang tidak percaya akan menerima kematian, yaitu mati dalam dosanya (Yoh. 8:24).
                Pernyataan yang disampaikan oleh Yesus ini merupakan jaminan akan hidup walaupun ia sudah mati sehingga kematian bukanlah hal yang sangat menakutkan dan harus dihindari. Kematian sejatinya merupakan bagian dari kehidupan (eksistensi) di mana pada saat kita hidup kita memiliki kesempatan untuk percaya kepada Yesus Sang kehidupan itu sendiri. Pengharapan kebangkitan tidak lain adalah pengharapan akan Yesus yang memiliki hidup yang diterima-Nya dari Bapa dan yang sanggup memberikan hidup itu kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Yang mau dinyatakan oleh Yesus adalah bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak lagi hidup di bawah kuasa kematian. Sejak kapan? Sejak sekarang, yakni sejak seseorang mendengar dan percaya dan mempercayakan diri kepada-Nya serta kepada Bapa yang mengutus-Nya. Inilah kabar baik bagi kita, tatkala kita percaya kepada Kristus maka kita akan memperoleh hidup yang kekal. (RS).

DOA: Bapa sorgawi, kami percaya hanya dalam Kristuslah kami menemukan kehidupan yang kekal. Karena itu Tuhan kuatkan kami untuk tetap setia kepada-Nya. Amin. 

Kata-kata Bijak:
Kehidupan yang sesungguhnya hanya ada dalam Kristus.


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Minggu, 3 April 2018


DIBELI LUNAS UNTUK KEMULIANNYA
“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah
Allah dengan tubuhmu.” (1 Korintus 6:20).

                Ketika kita tidak mampu membeli rumah atau barang lainnya secara tunai, maka kita mungkin bisa membelinya dengan cara mencicil. Untuk uang muka mungkin harus  kita tabung lebih dahulu dan setelah cukup, kita bisa membeli rumah impian kita. Namun, ada berbagai syarat dokumen yang harus setujui untuk mendapatkan rumah cicilan itu. Di satu sisi kita bahagia, tetapi di sisi lain kita tegang karena sekalipun kita bisa memasuki rumah itu, kita belum sepenuhnya memilikinya. Pembayarannya belum selesai. Kita masih berhutang, dan harus membayarnya selama bertahun-tahun. Dalam kurun waktu itu kita selalu terbeban untuk melunasi kredit cicilannya hingga lunas dan tuntas. Tetapi selama belum lunas kita merasa terbeban dan harus berjuang untuk menuntaskannya. Tentu kita akan bersukacita jika pada saatnya hutang kita sudah lunas.
                Dalam hidup kita sebagai orang percaya, karya Kristus menebus kita dari hutang-hutang dosa kita adalah suatu anugerah yang sudah nyata. Paulus dalam suratnya ke jemaat Korintus memberikan suatu pernyataan dan nasihat sebagaimana dalam nas ini: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas di bayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” (1 Kor.6:20). Kata "dibeli" yang dipakai dalam ayat ini mengingatkan kita pada pasar zaman dahulu, di mana para budak diperdagangkan. Jika ini adalah arti yang Paulus maksudkan, ia menunjuk kepada orang-orang Kristen yang dahulu adalah budak-budak dosa, tapi sekarang telah ditebus dan dibayar lunas dengan kematian Kristus di atas kayu salib. Karena la telah membayar lunas hutang-hutang dosa kita, sekarang kita telah menjadi milik Kristus yang sah. Maka dalam 1 Korintus 7:23, Paulus mengingatkan pembacanya: "Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba dosa." Demikian pula dalam Galatia 5:1,13, Paulus berkata: "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." 
                Di zaman now, tentu perbudakan secara terang-terangan tidak ada namun mental dan karakter sebagai manusia yang masih diperhamba banyak ditemukan. Meski sudah ditebus oleh darah Kristus namun masih memperhamba dirinya  kepada materi, jabatan, kekayaan, kuasa, dan lain sebagainya. Mengapa terjadi demikian? Karena bagi mereka darah Kristus tidak memiliki kuasa membayar kenikmatan apa yang dikehendaki oleh Allah. Bagi mereka penebusan merupakan penghalang  untuk memiliki apa yang dikehendaki dunia. Maka jika hutang-hutang dosa  kita sudah lunas dibayar oleh Kristus, maka marilah dalam hidup sehari-hari senantiasa memuliakan TUHAN dengan tubuh yang fana ini. (RS).

DOA: Bapa Sorgawi,  cinta kasih-Mu telah membayar lunas segala dosa-dosa dan pemberontakanku. Untuk itu Tuhan kuatkan aku agar selalu  memuliakanMu dalam hidup yang penuh cobaan dan perjuangan ini. Amin.

Kata-kata Bijak:
“Hanya darah Kristus yang mampu membayar lunas hutang dosa kita.”


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Minggu, 2 April 2018

CERITAKANLAH KUASA ALLAH
“Dan setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain.” (Lukas 24:9).

                Dalam dunia pengadilan, untuk menyatakan suatu fakta atau peristiwa benar-benar terjadi, maka dibutuhkan beberapa orang saksi. Para saksi itu disumpah sesuai dengan kepercayaan agamanya masing-masing untuk menyatakan apa yang didengar dan dilihatnya.  Dengan sumpah itu diyakini bahwa apa yang disaksikannya benar-benar terjadii dan memang begitulah sebuah fakta atau kejadian yang disaksikannya terjadi. Tanpa saksi maka pengadilan tidak dapat untuk membuat suatu keputusan. Jadi peranan saksi itu sangatlah penting. Dalam hubungannya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Alkitab sekarang ini kita melihat adanya saksi-saksi yang dapat menguatkan dan semakin mendorong kita untuk mempercayai fakta-fakta yang terjadi dalam Alkitab.
                Alkitab telah mencatat saksi mata yang menceritakan pertemuan dengan Yesus yang sudah bangkit. Di antaranya ada para perempuan yang kemudian menceritakan kepada rasul-rasul. Tetapi para Rasul itu tidak percaya. Mungkin rasul-rasul menganggap mereka hanyalah perempuan, bukan nabi, bukan rasul. Maka mereka tidak percaya. Adalah suatu karunia rohani untuk mempercayai perkataan orang lain untuk mengetahui bahwa Yesus Kristus adalah Putra Allah, dan bahwa Dia disalibkan untuk dosa-dosa dunia”. Allah telah membangkitkan Yesus,  maka Yesus secara tegas dinyatakan sebagai Mesias. Kisah inilah yang disampaikan oleh para perempuan agar apa yang mereka saksikan dapat mereka ceritakan kepada semua saudara mereka yang lain. Meskipun kesaksian para perempuan diragukan kebenarannya karena  mengingat sistem patriarki Palestina abad pertama yang masih berlaku. Meskipun benar bahwa, dalam keadaan tertentu perempuan diperbolehkan untuk bersaksi di pengadilan. Dalam masyarakat Yahudi abad pertama, kesaksian perempuan sangat kurang bernilai dibanding pria.  Tetapi Tuhan sering memakai mereka yang dianggap tidak berarti justru dipergunakan Allah untuk bersaksi..
                Rasul Paulus menuliskan 1 Kor.15:14 menyatakan: "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” Lebih daripada itu, kami berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus -- padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu." Pengajaran ini bukan hanya persoalan spekulatif yang kita hadapi, ini merupakan pondasi yang paling mendasar. Kisah Kebangkitan adalah unsur pokok dari iman kita. Untuk itu ceritakanlah Kuasa Allah dalam kehidupan saudara.(RS).

DOA : Ya Bapa Sorgawi, terima kasih atas kebangkitan Kristus bagi kami. Tolong dan bimbing kami Tuhan untuk selalu siap-sedia menyaksikan kuasa kebangkitan-Nya. Amin.

Kata-kata Bijak:
“Tugas dan tanggung-jawab kita sebagai orang percaya adalah
menyaksikan kebangkitan Yesus Kristus.”


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Minggu, 1 April 2018


RASA  SYUKUR  DALAM  HIDUP
“Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.” (Mazmur 118:21).

                Allah telah banyak menjawab seruan dan membuktikan keselamatan bagi pemazmur. Dalam dunia bisnis ada tiga kata ajaib mewujudkan kehidupan kerja yang lebih dinamis, misalnya kata "I respect you" "I appreciate you" dan "I agree with you." Ketiga kata ini diyakini akan mengubah kehidupan kerja seseorang menjadi lebih dinamis, ketimbang kata-kata yang mencemooh, menghina dan menghakimi. Sedangkan para ahli komunikasi mengatakan bahwa ada tiga kata ajaib yang mampu membangun hubungan baik antar manusia (the three magic words), yaitu terima kasih (thank you), maaf (sorry), dan tolong (please). Dari ketiga kata tersebut, yang memiliki kekuatan terbesar ternyata kata "terima kasih". Ungkapan terima kasih adalah sebuah bentuk mengucap syukur kepada orang lain yang telah berbuat sesuatu kepada kita.
                Hal seperti itulah yang kita lihat dan renungkan dari ungkapan Permazmur dalam nas ini. Penulis kitab Mazmur mengajarkan bahwa ungkapan syukurnya merupakan sarana dalam komunikasinya kepada Allah terhadap apapun yang telah terjadi dikehidupanya. Bagi kita yang beriman doa pujian dan syukur  adalah bentuk komunikasi yang paling sejati sebagai persekutuan kita bersama dengan Allah di dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus. Suatu sikap memuji, sikap menghargai, sikap mengasihi yang ditujukan kepada orang lain, adalah yang paling sehat bagi ke dua belah pihak dalam berkomunikasi. Lebih benar lagi adalah sikap kita terhadap Allah. Itulah sebabnya dalam nas ini Pemazmur mengungkapkan: “Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.” (Mzm.118:21). Pemazmur sungguh merasakan jawaban TUHAN atas pergumulannya, sehingga itulah yang mendorongnya untuk bersyukur.
                Ungkapan syukur mengungkapkan ujud paling akurat akan perasaan-perasaan kita yang benar dalam berbicara dengan Dia dan juga dalam mendengarkan Dia. Kita tidak boleh lupa bahwa “mendengarkan” sudah merupakan separuh (yang lebih baik) dari komunikasi yang kita lakukan. Mendengarkan dengan puji-pujian dan rasa syukur kepada Tuhan!. Konsistensi penulis Kitab Mazmur dalam menyatakan syukur kepada Allah merupakan salah satu dari bukti jawaban dan keselamatan yang dialaminya. Sepanjang pasal 118 yang berisikan nyanyian dan puji-pujian menggambarkan bahwa Allah itu baik, setia, memberi kelegaaan dan banyak lagi. Rasa syukur bukan hanya sekedar tindakan dari sebab akibat.  Dalam 1 Tes 5:18 disebutkan, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Jadi hidup orang-orang percaya adalah Ini adalah mengucap syukur kepada TUHAN. (RS).

DOA:  Bapa Sorgawi, Engkaulah yang telah menjawab doaku dan Engkau telah menyelamatkanku. Karena itu di sini aku Tuhan mengucapkan syukur kepada-Mu. Biarlah segenap hidupku menyembah-Mu. Amin. 

Kata-kata bijak :
Tuhan menghendaki kita sebagai umat-Nya,
untuk selalu bersyukur dalam hidup.



Untuk Arsip Bulan lalu silahkan hubungi Admin atau email ke: gkpiapostolat@gmail.com

1 komentar:

  1. Halo, saya Ny. GLORIA Peminjam Pinjaman Swasta. Kami memberikan pinjaman kepada perusahaan 2% lebih rendah. Apakah Anda perlu pinjaman segera untuk membayar utang, ATAU Anda memerlukan pinjaman usaha untuk meningkatkan bisnis Anda, membayar tagihan Anda dan meningkatkan kesuburan perusahaan Anda? apakah Anda telah ditolak oleh Bank dan lembaga keuangan lainnya? kami memberikan layanan yang baik kepada individu, perusahaan, pria dan wanita bisnis dan kami bersedia membantu orang yang bersedia menulis kepada perusahaan kami dan mendaftar dengan kami dan kami akan membantu banyak orang yang secara finansial turun. Namun, Opportunity Finance ada di Door Step Anda, jadi hubungi kami hari ini melalui email di: (gloriasloancompany@gmail.com) Atau WhatsApp Number +1 (330) 577-2856 dan dapatkan pinjaman Anda hari ini.
    Mrs. Gloria S MD / CEO
    PERSYARATAN KREDIT INFORMASI YANG DIPERLUKAN:
    1) Nama lengkap: ............
    2) Jenis Kelamin: ............ .....
    3) Umur: ........................
    4) Negara: .................
    5) Nomor Telepon: ........
    6) Pekerjaan: ..............
    7) Penghasilan: ......
    8) Jumlah Pinjaman yang Dibutuhkan: ....
    9) Jangka waktu pinjaman: ...............
    10) Alasan pinjaman: ...........
    11) Sudahkah Anda mengajukan permohonan dan ditolak? Kemudian ........
    12) Apakah kamu berbicara bahasa Inggris .......
    Salam

    BalasHapus